Prosa Tanpa Jeda

prosa tanpa jeda

Semoga adanya bahagia, damai dan bersimbah cahaya jua.

Dalam dekapan malam dinginnya pagi, yang kabutnya pun nyaris tak menghalangiku untuk kembali menghitung titik embun. Dalam hamparan mega, yang samarnya pun masih merupakan satu yang mempertegas bahwa kehidupan akan terus seperti ini. Berjalan dan terus berjalan bagai air yang mengalir …

Ibarat sebuah lingkaran,
Ia tak bertepi dan semua mesti sempat melalui sisi-sisinya. Berputar.. dan terus berputar, bagai jodoh malam pagi dan siang, cakrawala jiwa ‘kan tuut mengeja keteraturannya. Detik demi detik, sehari lantas sekian bulan berlanjut tahun. Pagiku surya, siangku kelam dunia separuh neraka.

Itulah… dunia yang jadi gambaran
Dalam ruang ideaku
Sekali lagi ibarat lingkaran, aku, dan kamu ada dalam perputaran itu, tapi….
Jiwaku telah terlanjur membatu, diriku mati dalam suburnya cinta nun mengangkasa di setiap jagaku.
Laksana musafir, aku pergi mencari kekasih yang termakan musim, tersapu masa yang menengarai anak – anak jaman.

Aku sudah lama terkubur di pekuburanku yang bersepuh debu tempatmu pijakkan langkah kaki yang tak jua kudengarkan derapnya…,
Dan disitu, keangkuhanmu…,memancarkan sewindu jarak perjalanan menuju kesana, jah…sekali !, di suatu kampung yang tak berpenghuni, ‘pun yang ada hanya penantian yang melewati batas, nampak jauh memang, tak sedekat jagad makna yang kupunya.

Dan kau….
Kau tak pernah melihat dan tahu, saat angsa-angsa itu dengan setia merayuku untuk segera mengibaskan segala keluh kesahku, meski aku sadar, tak ada manusia yang mampu menopang cinta beranak kerinduan…

Menyusuri jalan penuh kerikil tajam, dan onak duri yang sakit hanya merupakan satu keniscayaan dalam sebuah pencarian….
Sebab, sebuah kerinduan seringkali memakan separuh jiwa yang sadar menjadi satu jiwa yang rapuh dan berkesempatan untuk mati.

Betapa naïf, jika seorang musafir kehausan di tengah-tengah lautan ? Manakah kuasa air kehidupan yang dapat kuseduh ? Atau setidaknya sejengkal tanah, yang dapat kutiduri seperti ketika kita bersetubuh dalam jiwa yang saling meronta, kemarin pagi, kemarin siang, kemarin malam, dan burung-burung itupun ikut menyanyikannya, bahkan rembulanpun tahu betapa lemahnya diri kita ketika yang ada hanyalah kelumpuhan jiwa..

Dan pada akhirnya, kita hanya menikmati alur nafsu yang ada, saling membenturkan antara banyak hal yang kita tak pernah tahu,
Itu berhak atau tidak dicari jawabnya.
Sepertinya kau tak pernah tahu, di luar jeda waktu, setetes air akan sangat membantu urat-uratku merenggang, ibarat cermin yang memuai ketika,
Bayangmupun sulit sekali kugambar dalam dinding kamarku,
Padahal, tiap pagi, sampai hari ini,
Seperti biasanya, kubuka jendela hati dan jelas sekali disana terpampang sebuah nama anak cinta, yang…
Tak bias lagi mulutku memanggilnya anakku.
Dan bagiku ketika itu..
Ketika aku pertama kali terjaga entah hari keberapa dalam hidupku, maka aku tahu kehidupan adalah kehadiranmu usai pengharapan ini, karena,
Hantu satu – satunya yang aku takuti adalah lepasnya biduk dari tambatannya,

Dan kau….
Kau telah tanggalkan pakaianmu untuk kemudian berlari menabur seribu satu pertanyaan di sudut kamar, ruangku menantimu, dan selalu jadi sebuah tanda tanya besar, yang jawabnya menggantung di awan.
Setidaknya, semua itulah yang jadi nyanyian sepanjang perjalanku yang entah sampai kapan berakhir,
Sekali lagi…,aku hanya seorang musafir yang kebetulan lewat pekarangan rumahmu, dan Sang Pujanggapun tersenyum,
Senyum kedukaan, senyum anyir yang lahir menyesali ketidakberpihakkan takdir, menyesali kelancangan seorang dewi yang tiba-tiba liar menggadai kejujuran, ya, aku, aku mungkin telah mengobral dan termakan mimpi dan teledor menjalaninya !

Maafkan..
Biarlah, sejarah masa depan yang akan merubah itu semua, dan pada akhirnya nanti (semoga), aku akan berhenti pada satu kesadaran, bahwa yang kudapat dari semua ini hanyalah lelah dan lelah, tidak lebih !
Dan waktu akan menyadarkanku, bahwa aku telah akan hidup dalam kematianku sendiri, dan akan telah mati dalam kehidupanku sendiri.
Lebih baik aku nanar…
Karena aku lemah untuk kembali terbang dengan sayap-sayap yang kupunya, dan semestinya kusadar, langit memurkaiku bukan karena, perginya yang dicinta, tapi karena dosaku telah memenuhi jagad ini, memurkaiku, karena kesalahanku memaknai semua kesemuan ini, memang sebaiknya, aku…terbangun, dan menyengaja untuk bangun…

In memoriam, jogja sebagai kota terkutukku
1999

Postingan oleh Lailla EnQi (lihat semua)

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan