Legenda Putri Kesupuk

Putri Kesupuk adalah putri bungsu raja yang bertahta di Bumi Sasak. Dibandingkan enam kakaknya, Putri Kesupuk lah yang paling cantik wajahnya.

Karena kecantikan wajah dan baik budi pekertinya, banyak pemuda yang berniat menyunting Putri Kesupuk. Bahkan, para pemuda itu berniat saling bertarung demi memperebutkan cinta dan kasih sayang Putri Kesupuk.

Untuk mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi, ayahanda Putri Kesupuk pun berujar, “Siapa yang mampu membangun bendungan tempatku melepas ikan-ikan untuk segenap rakyatku, maka ia berhak menyunting putri bungsuku itu..”

Para pemuda pun segera mencoba peruntungan mereka dengan mengubah sawah menjadi bendungan. Namun tidak mudah ternyata mewujudkan sayembara yang dititahkan Sang Raja. Mereka akhirnya menyerah setelah berusaha keras membangun bendungan yang dikehendaki Sang Raja.

Ketika para pemuda itu telah menyerah, datanglah seekor kerbau jantan. Kerbau Putih namanya. Rupanya Kerbau Putih hendak pula mengikuti sayembara tersebut. Ia segera bekerja keras. Dengan mengerahkan sepasang tanduk dan juga kaki-kakinya, Kerbau Putih bekerja keras seolah tidak mengenal lelah.

Bertahun-tahun Kerbau Putih itu bekerja hingga terciptalah Lout Selatan. Di tengah-tengah taut tersebut terlihat tumpukan bebatuan. Selesailah bendungan seperti yang dikehendaki Sang Raja.

Kerbau Putih pun menghadap Sang Raja untuk meminta hadiah sayembara yang dimenangkannya. Sang Raja yang adil dan bijaksana sifatnya itu tidak mengingkari janjinya. Meski pemenang sayembaranya seekor kerbau, Sang Raja menyerahkan Putri Kesupuk kepada Kerbau Putih.

Putri Kesupuk mengikuti Kerbau Putih. Ia duduk di atas punggung Kerbau Putih ketika meninggalkan istana kerajaan. Tibalah mereka di sebuah sungai. Kerbau Putih mempersilakan Putri Kesupuk untuk mandi.

Ketika Putri Kesupuk mandi, datanglah seekor kera betina. Kera Hitam namanya. Ia membujuk Putri Kesupuk untuk melarikan diri dari Kerbau Putih. Putri Kesupuk menuruti ajakan Kera Hitam. Kera Hitam memerintahkan kera-kera Iainnya untuk membangun sebuah rumah pohon.

Kera Hitam berpesan kepada Putri Kesupuk, “Sekali- kali janganlah engkau menjatuhkan daun, walau sehelai pun!” Putri Kesupuk mengiyakan pesan Kera Hitam.

Syandan, tak terkirakan kemarahan Kerbau Putih ketika mendapati Putri Kesupuk melarikan diri. Ia lantas mencari Putri Kesupuk ke sana kemari.

Tak juga ditemukan putri bungsu Raja Bumi Sasak itu. Putri Kesupuk yang tetap bersembunyi di dalam rumah pohonnya melihat Kerbau Putih yang berusaha keras mencari dirinya. Terbit rasa kasihannya. Maka, dijatuhkannya sebatang ranting.

Kerbau Putih akhirnya mengetahui keberadaan Putri Kesupuk. Dengan kemarahannya yang sangat, Kerbau Putih menyeruduk pohon tempat Putri Kesupuk berada. Begitu kerasnya serudukan Kerbau Putih hingga kedua tanduknya menghujam kuat-kuat pada batang pohon.

Kerbau Putih berusaha sekuat tenaga menarik tanduknya, namun tetap tanduknya terhujam kuat-kuat pada batang pohon. Kerbau Putih tak berdaya hingga ia menemui kematiannya.

Setelah Kerbau Putih mati, Putri Kesupuk lantas tinggal di hutan bersama Kera Hitam dan kawanan kera. Di hutan itu terdapat sebuah gua yang menjadi tempat tinggal seorang raksasa.

Pada suatu pagi Kera Hitam bertemu dengan si raksasa ketika ia sedang mencari buah-buahan. Kera Hitam sangat takut tertangkap si raksasa dan menjadi santapan si raksasa. Ia pun berusaha mencari cara agar lepas dari tangkapan si raksasa.

Maka katanya, “Ada seorang perempuan bersamaku. Aku dapat mempersembahkan kepadamu jika engkau tidak menangkapku.”

Si raksasa membiarkan Kera Hitam kembali untuk membawa manusia yang dapat disantapnya. Kera Hitam mengungkapkan masalah yang dihadapinya pada Putri Kesupuk.

“Aku terpaksa berjanji pada si raksasa untuk menyerahkanmu karena aku sangat takut ditangkapnya.”

Putri Kesupuk lantas memberikan rencananya, “Temuilah si raksasa. Mintalah beras dan kunyit padanya. Sebutkan, beras dan kunyit itu untuk upah orang-orang yang akan membantu membawaku kepadanya. Mintalah pula perhiasan yang akan kukenakan sebelum dimangsanya.”

Kera Hitam lantas menemui raksasa dan mengungkapkan pesan Putri Kesupuk. Si raksasa dapat menerima alasan Kera Hitam. Diberikannya beras dan kunyit dalam jumlah yang cukup banyak. Juga perhiasan.

Putri Kesupuk dan Kera Hitam lantas menumbuk beras pemberian raksasa hingga menjadi tepung. Dengan ditambah air, tepung itu lantas dibentuk menjadi patung yang menyerupai tubuh Putri Kesupuk. Patung itu lantas dilumuri kunyit hingga makin mirip dengan tubuh Putri Kesupuk. Perhiasan pemberian si raksasa dikenakan pada patung. Patung itu pun lantas dibawa ke gua tempat tinggal si raksasa.

Si raksasa begitu gembira mendapat persembahan putri sesuai janji Kera Hitam. Segera dimangsanya patung itu dengan lahap. Amat suka ia hingga ia meminta diberikan persembahan lagi.

Putri Kesupuk kembali membuat patung dan kembali mempersembahkannya pada si raksasa. Terus-menerus si raksasa meminta diberi persembahan hingga Putri Kesupuk menjadi Ielah karenanya.

Putri Kesupuk lantas mencari cara untuk melenyapkan si raksasa. Ia meminta Kera Hitam dan kawanan kera untuk mencari lumut yang banyak menempel di batang-batang pohon aren. Putri Kesupuk lantas memerintahkan menutup pintu gua tempat tinggal si raksasa dengan lumut-lumut. Setelah pintu gua tertutup rapat, gua itu pun lalu dibakar dari luar.

Si raksasa amat terperanjat dan berusaha melarikan diri. Namun, karena pintu gua tempat tinggalnya telah tertutup rapat lumut dan api berkobar dari luar, si raksasa tidak bisa keluar dari gua tempat tinggalnya. Ia pun mati terbakar.

Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan segenap kawanan kera bergembira mendapati si raksasa telah mati. Mereka merasa aman karena tidak ada lagi raksasa yang sangat mengganggu dan mengancam keselamatan jiwa mereka. Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan kawanan kera lantas tinggal di dalam gua. Mereka hidup aman dan tenteram.

Pada suatu hari seorang pangeran pergi berburu ke dalam hutan. Ketika tengah beristirahat dalam perburuannya, Sang Pangeran melihat Putri Kesupuk tengah mengambil air. Sang Pangeran tertarik dan kemudian mendekati Putri Kesupuk. Sang Pangeran memperkenalkan diri.

Sesungguhnya Putri Kesupuk mengetahui jika Sang Pangeran itu tak lain adalah saudara misannya sendiri. Namun, Putri Kesupuk berpura- pura tidak mengenal Sang Pangeran, sementara Sang Pangeran tidak menyadarinya. Keduanya pun berkenalan dan tidak lama kemudian mereka telah bersahabat dengan baik.

Sang Pangeran kerap mendatangi gua tempat tinggal Putri Kesupuk dan berbincang-bincang dengan Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan juga kawanan kera yang selama itu menjadi sahabat-sahabat Putri Kesupuk.

Pada suatu hari Sang Pangeran mengajak Putri Kesupuk untuk datang ke istana kerajaannya ketika kerajaan hendak mengadakan sebuah pesta. Putri Kesupuk pun datang sendirian. Kera Hitam dan kawanan kera tidak berani turut serta ke istana kerajaan karena khawatir dengan keselamatan mereka.

Pesta kerajaan itu berlangsung amat meriah. Aneka makanan dan minuman disajikan dan bebas dinikmati para undangan. Begitu pula aneka hiburan digelar serta aneka permainan diadakan. Sang Pangeran turut serta dalam permainan perang-perangan. Putri Kesupuk merasa khawatir dengan keselamatan Sang Pangeran hingga ia pun turun ke tengah gelanggang permainan untuk menghentikan permainan perang-perangan tersebut.

Gemparlah sekalian penonton dan pemain saat mendapati seorang perempuan memasuki arena permainan. Ketika itulah Putri Kesupuk lantas membuka jati dirinya yang sesungguhnya.

“Ketahuilah,” katanya dengan suara lantang, “Aku adalah Putri Kesupuk, putri bungsu Raja Sasak. Akulah putri yang dahulu dibawa pergi Kerbau Putih yang menjadi pemenang sayembara yang diadakan ayahandaku.”

Kian gemparlah segenap hadirin, termasuk pula Sang Pangeran, setelah mengetahui siapa sesungguhnya perempuan yang berada di tengah arena permainan perang-perangan itu.

Putri Kesupuk lantas dibawa ke Kerajaan Sasak untuk dipertemukan dengan kedua orangtuanya. Putri Kesupuk kemudian dinikahkan dengan Sang Pangeran. Keduanya hidup rukun dan bahagia.

Meski telah tinggal di dalam istana kerajaan, namun Putri Kesupuk tidak melupakan hubungannya dengan Kera Hitam dan juga kawanan kera. Sesekali ia bersama suaminya datang ke gua tempat tinggalnya dahulu untuk bertemu dengan kawan-kawannya itu.

Pesan moral:

Hendaklah saling bantu-membantu dan bersatu demi tujuan bersama. Sahabat yang baik adalah sahabat ketika susah dan senang, oleh karena itu kita hendalah tetap bersahabat dalam keadaan apapun dengan sahabat-sahabat kita.

Anonim

Ekstensi untuk tulisan yang tidak diketahui penulisnya. Silakan hubungi kami jika Anda mengetahui penulis aslinya.
Anonim

Latest posts by Anonim (see all)

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan