Relatifitas Ruang dan Waktu

Relatifitas Ruang dan Waktu

Apa itu waktu?

Ketika saya membunyikan sebuah benda, lalu saya bunyikan benda yang sama dua menit kemudian. Maka kita akan mendapatkan jeda antara bunyi pertama dan bunyi kedua. Jeda inilah yang kita pahami sebagai "waktu".

Ketika kita mendengar bunyi kedua, maka bunyi pertama yang kita dengar tadi akan menjadi imajinasi yang tertanam dalam pikiran. Dengan kata lain, bunyi pertama hanyalah potongan kecil informasi yang tersimpan menjadi memori di otak.

Selama ini kita merumuskan konsep "waktu" dengan cara seperti itu, yakni membandingkan antara momen yang sedang berjalan dengan momen yang sudah tersimpan dalam memori. Jika kita tidak punya dua perbandingan ini, maka persepsi tentang "waktu" pun menjadi tidak ada.

Saya bisa mengatakan diri saya berumur 33 tahun, semata-mata karena saya mengakumulasi seluruh informasi yang "seolah" 33 tahun itu di dalam otak. Bila memori-memori sebelum masa sekarang dihapus, maka saya tidak akan berpikir tentang keberadaan periode yang telah berlalu. Artinya, saya hanya akan mengalami "momen" tunggal yang sedang dijalani saat ini.

Ketika kita melihat seseorang meraih mic dari lantai, lalu mengambil mic tadi untuk ditaruh di depan mulut sebagai alat bantu bicara. Maka otak kita akan menangkap adegan bagaimana pertama dia akan mengambil mic, lalu perlahan menggerakannya, hingga mic itu sampai di depan mulut. Kita bisa mengatakan "dia mengambil mic", semata-mata karena otak kita menyatukan potongan-potongan informasi yang kita terima melalui mata, dan menafsiri kegiatan itu sebagai "orang mengambil mic".

Singkatnya, waktu muncul sebagai hasil perbandingan antara beberapa ilusi yang tersimpan di dalam otak. Bila otak kita tidak memiliki memori, maka kita tidak dapat melakukan interpretasi seperti itu sehingga persepsi tentang waktu dan ruang -sekali lagi- tidak terbentuk.

Semua yang saya sampaikan di depan, tentang bunyi, tentang usia, tentang adegan seseorang dengan mic, semuanya tiada lain merupakan keputusan yang diambil di dalam otak sehingga -karenanya- bersifat relatif.

Manusia, sesungguhnya tidak pernah tahu bagaimana waktu mengalir. Kalau saya boleh katakan, kita bahkan tidak tahu apakah waktu sebenarnya mengalir atau tidak.

Seluruh penjelasan diatas menunjukkan bahwa waktu bukan satu fakta absolut, namun waktu hanyalah sebuah persepsi. Dengan kata lain, waktu berada dalam keadaan yang relatif.

Dalam perspektif agama, mimpi adalah fenomena ruhiyah. Dia disebut sebagai batas halus alam barzah. Dalam mimpi, kita bisa menyusuri jalan cerita yang seolah berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari, namun setelah bangun kita baru menyadari bahwa tidur kita hanyalah beberapa menit atau jam. Itu adalah bukti bahwa waktu itu relatif.

Lantas muncul sebuah pertanyaan dalam kepala saya: jika waktu memang relatif, dan alam tiga dimensi sebenarnya hanya ilusi dan tidak ada dalam kenyataan, apakah itu artinya "manusia" sebenarnya berada dalam "ketiadaan" ruang dan waktu?

Jika memang demikian, maka masa esok dan masa lalu sebenarnya tidak pernah "ada". Karena masa esok dan masa lalu sejatinya berada dalam satu waktu yang tunggal, yaitu "sekarang".

Kenakalan saya semakin menjadi dengan bergeser "meraba" fenomena akhirat. Saya jadi berpikir, jangan-jangan akhirat -lengkap dengan surga dan nerakanya- bukanlah satu entitas yang akan terjadi esok pada satu waktu tertentu atau di satu tempat tertentu. Namun surga dan neraka -bisa jadi- sedang terjadi saat ini, dalam "waktu" dan "ruang" yang sama.

  • Share:

Arif Wachyudin

Meski lahir di Banyumas, tapi aslinya saya adalah penghuni surga yang diturunkan ke bumi untuk bermain-main.

ARTIKEL TERKAIT

BERI KOMENTAR