Nietzsche Telah Mati

Nietzsche Telah Mati

Friedrich Wilhelm Nietzsche dikenal sebagai seorang pembunuh Tuhan. Pemikiran fundamental sekaligus radikal inilah yang dibangun. Pemikirannya terkesan tidak terbatas, namun sangat rinci dan teratur.

Nietzsche mengembangkan filsafat etika berdasar teori evolusi. Ia mengagungkan eksistensi manusia. Menurutnya, manusia memiliki kekuatan penuh dalam kehidupan. Ia merasa hadir menanggapi fakta sosialnya dengan pendekatan-pendekatan rasionalitas. Ia ketergantungan hasil pengamatan atau observasi—khas filsafat modern yang lahir dari Zaman Pencerahan atau Renaisans.

Dalam karyanya "The Will To Power" tertuang, kekuatan yang semata-mata pendorong peradaban adalah langkah mencari kekuatan tertinggi dalam meraih suatu kekuasaan. Menurutnya, manusia memiliki kekuatan penuh untuk berkuasa. Tiap manusia berhak atas dirinya sendiri. Barangtentu, dalam harus pula menguasai di luar dirinya—kekuasaan sejati—menguasai kekuatan yang lebih besar dari kekuatan dirinya.

Sementara, Nietzsche dalam membangkitkan kekuatan dirinya dan modal sosialnya. Ia menulis,
"Dunia ini adalah kehendak berkuasa dan tidak ada yang lainnya! Kaulah sendiri yang menjadi kehendak berkuasa dan tidak ada yang lainnya."
Sebenarnya, ia ingin mengatakan, campur tangan Tuhan tidak ada. Ia mulai menyadari kehidupan berlangsung berkat energi utuh dari manusia. Ia menamainya: Ueber-Mensch atau sebagai manusia unggul. Manusia yang unggul dengan kekuatan super: makhluk yang menciptakan takdirnya sendiri.

Untuk menjadi manusia unggul, Nietzsche menulis "The Superman", ia mengungkapkan perihal Adimanusia: manusia yang berpengaruh pada manusia lainnya. Manusia yang memiliki fungsi sosial secara utuh. Manusia yang tidak hanya seonggok daging bernyawa. Untuk menjadi seorang Adimanusia, seseorang harus memiliki kekuatan, kekuasaan, dan kebanggaan. Manusia harus terbebas dari kekhawatiran dan rasa berdosa. Manusia harus mencintai kehidupan. Dengan mencintai kehidupan berarti berani menanggung kenyataan menjadi manusia. Manusia unggul harus berani menjawab tantangan kehidupan.

Setelah menjadi Adimanusia, dengan mudahnya manusia menguasai segala hal. Seiring kemajuan dunia yang pesat—mau tidak mau, mungkin secara adaptif—manusia mampu menguasai kemajuan, dan penemuan yang berasal dari ilmu pengetahuan. Maka otomatis Adimanusia semakin berani meniadakan campur tangan Tuhan. Tiba pada puncak pemikiran Nietzsche, "Tuhan telah mati karena manusia yang membunuhnya". Ia menunjukkan bahwa, Adimanusia yang membunuh Tuhan. Tuhan telah mati lantaran terlalu banyak manusia yang berkuasa atas manusia lainnya dengan menghilangkan kehendak Tuhan. Maka, Tuhan telah mati.

Klimaksnya, Zarathustra hadir seolah sebagai kitab Nietzsche. Zarathustra bukanlah nabi yang dikisahkan. Zarathustra adalah puncak tertinggi karya filsafat dan seni yang diciptakan Nietzsche. Ia mendambakan suatu realitas tanpa bayang-bayang sesuatu yang mustahil ada dalam kehidupan. Ia memaknai Zarathustra sebagai kesunyian. Sunyi tanpa kebahagiaan dan kesedihan. Kesunyian ini adalah kematian Tuhan. Zarathustra seolah diwujudkan sebagai tempat sunyi. Tempat manusia yang berkuasa atas dirinya sendiri dan tidak takut pada apapun. Dalam Zarathustra ia memekikan kematian Tuhan.

"Aku ajarkan kepadamu: jadilah manusia agung. Pernah dosa yang terbesar adalah dosa melawan Tuhan; tapi, Tuhan sudah mati, dan bersama dia matilah pula pendosa-pendosa ini."

Di atas adalah kutipan dari karya Nietzsche dalam Zarathustra. Untuk menjadi manusia yang agung, manusia yang kuat, manusia harus membunuh Tuhan. Atau setidaknya menerima berita tentang kematian Tuhan. Dengan kematian itu maka terbukalah kesempatan bagi manusia untuk menjulang dirinya setinggi-tingginya, yaitu sebagai pencipta. Dikarenakan Tuhan menjadi penghalang manusia untuk menjadi manusia agung.

Namun di sisi yang lain Nietzsche berpesan agar orang tidak mengganti Tuhan dengan dewa-dewa yang baru. Ia bahkan tidak ingin orang mempercayainya sebab kalau memang demikian, maka tibalah baginya untuk mengatakan:

"Selamat tinggal, dan aku akan kembali lagi setelah kau tak percaya padaku."

Nietzsche tidak menginginkan penganut-penganut. Ia lebih suka menyaksikan manusia mencari jalan hidupnya masing-masing. Bahkan Nietzsche lebih suka dirinya ditentang dan dilawan. Setelah ia menyampaikan ajarannya, maka ia berkata:

"Sekarang aku pergi sendiri hai penganut-penganutku. Kalian pun pergilah sekarang, sendiri. Demikianlah kehendakku. Jauhilah aku dan lawanlah Zarathustra."

Nietzsche bisa disebut seorang nihilis, sebab ia lebih dahulu menihilkan segala nilai lama, mempersetankan segala nilai yang sudah ada. Menjelang kematiannya Nietzsche harus dirawat di rumah sakit jiwa. Namun karena Ibunya tak sampai hati kemudian Nietzsche dirawat sendiri oleh Ibunya. Kemudian tiga tahun sebelum kematian Nietzsche, ibunya meninggal dunia. Niezsche meninggal pada tanggal 25 Agustus 1900. Sebelum ia meninggal, ia sempat dirawat oleh saudaranya, Elizabeth. Suatu ketika Nietzsche sempat melihat Elizabeth menangis, kemudian Nietzsche berkata:

"Janganlah menangis, bukankah kita ini bahagia?"

  • Share:

Andika Satria

Mantan wartawan surat kabar yang sekarang memilih menjadi "ghost writer"

ARTIKEL TERKAIT

Hantu Radikalisme

Hantu Radikalisme

BERI KOMENTAR