Indonesia Butuh Orang Terkenal, Bukan Orang Pintar

indonesia butuh orang terkenal bukan orang pintar

Indonesia Butuh Orang Terkenal, Bukan Orang Pintar | Banyaknya “artis” yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dan mendapatkan perolehan suara yang signifikan dalam pilkada cukup menjadi bukti bahwa untuk menuntaskan persoalan di negeri ini, bangsa ini lebih butuh orang terkenal daripada orang pintar.

“Terkenal” saat ini telah menjadi satu nilai yang didambakan banyak orang, sehingga karena ketenaran, seseorang akan dianggap lebih bernilai. Lebih segalanya. Meski secara kualitas diri orang yang “terkenal” tadi kalah jauh dibandingkan mereka yang mumpuni di bidangnya tapi “tidak terkenal”.

Dalam sebuah pesta demokrasi, seorang tokoh masyarakat yang sekian lama mengabdikan diri untuk masyarakat bisa tersingkir oleh “artis” yang sudah dikenal secara nasional, meski kerjaannya cuma sibuk “mencari” uang di industri hiburan.

Seorang ustadz yang sering nongol di TV akan lebih “dihargai” dan lebih dihormati oleh banyak orang, daripada guru-guru ngaji yang dengan penuh kerelaan dan tanpa diupah fokus mengajarkan ilmu agama di pelosok-pelosok kampung.

Saya tidak sedang berbicara tentang pamrih, tentang keadilan yang seharusnya didapatkan oleh mereka yang “tidak terkenal”, tidak. Saya sedang berbicara tentang nalar bangsa ini yang menurut saya sudah saatnya untuk direkonstruksi.

Nalar yang saya maksudkan itu adalah: “Pada perspektif manakah ‘orang terkenal’ dianggap lebih memiliki kemampuan dibanding mereka yang tidak terkenal? Adakah korelasi antara ketenaran dan kredibiltas seseorang?

Saya rasa rakyat butuh kejelasan, apakah lembaga legislatif yang ada sekarang ini benar-benar berfungsi sebagai penyalur aspirasi, ataukah hanya sekadar tempat mencari uang.

Meletakkan sembarang “artis” dalam deretan wakil rakyat menjadi sah, jika orientasinya adalah yang kedua. Tapi jika kita masih menganggap lembaga legislatif kita adalah penyalur aspirasi rakyat yang terhormat, maka “artis”, selebritis, atau siapapun namanya, haruslah melalui kaidah fit dan proper test yang jelas, kalau perlu diikutkan dalam mekanisme debat terbuka yang disaksikan oleh para calon pemilihnya.

Saya yakin anak cucu kita kelak akan menjadi orang-orang hebat, yang memiliki pemikiran serta nalar yang jauh lebih kritis dan lebih maju dibandingkan kita sekarang. Saya begitu meyakini itu. Dan saya tidak mampu membayangkan, apa yang akan terjadi ketika kelak mereka menengok sejarah, lalu menemukan deretan nama artis, pelawak dan penyanyi yang tidak memiliki kejelasan fungsi dan kontribusi disana.

Bisa jadi mereka akan mencibir, atau bahkan mungkin tertawa terbahak setelah mengetahui nama-nama wakil rakyat yang dipilih oleh bapak, ibu dan mbah-mbahnya itu tak lebih dari produk pemberhalaan maha lebay atas sosok “artis terkenal”.

Tanyakan pada diri kita, apakah kita siap ditertawakan oleh anak cucu kita kelak dengan produk “nalar” yang menggelikan semacam itu? Silakan kalau anda siap, kalau saya sih tidak.

Arif Wachyudin

Penulis amatiran. Meski lahir di Banyumas, tapi sebenarnya saya adalah penduduk asli surga yang diturunkan ke bumi untuk bermain-bermain.

Postingan oleh Arif Wachyudin (lihat semua)

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan