Elegi Komidi Putar

Elegi Komidi Putar

Malam terlihat nampak erotis di sepetak tanah lapang itu. Bagaimana tidak? Gemerlap lampu memendar terang beraneka rupa. Hijau, kuning, merah, biru menandakan keceriaan di malam yang sederhana. Terdengar pula dentam musik dangdut yang membahana semakin menambah maraknya arena hiburan kelas menengah ke bawah itu. Apalagi kalau bukan pasar malam.

Sepetak tanah yang dihimpit gedung pencakar langit itu sudah seminggu riuh redam karena pasar malam. Biasanya sepetak tanah itu hanya tanah kosong tak bertuan yang gelap. Pasar malam ramai berisi bianglala, komidi putar, tong setan, rumah hantu, odong-odong, mandi bola dan beraneka lapak penjual makanan serta pakaian.

Di gerbang masuk pasar malam itu terdapat dua lapak yang menjual kembang gula, memang sudah seperti menu wajib jika ada pasar malam di situ pasti ada lapak penjaja kembang gula. Pasar malam itu adalah milik Abah Jajang yang berasal dari Sukabumi.

Grup pasar malam itu biasanya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk membuka hiburan yang merakyat. Selain mereka harus mahir dalam membongkar pasang peralatan pasar malam, mereka juga harus bisa mengoperasikannya. Barulah setelah dua bulan berkeliling mereka pulang ke Sukabumi untuk melepas rindu kepada sanak keluarga.

Hanya seminggu mereka di rumah dan setelah itu harus kembali mengadu peruntungan dengan menjajakan jasa penghibur yang murah meriah. Pasar malam inilah yang sering dinantikan kehadirannya bagi warga kelas bawah. Inilah satu-satunya obat penawar segala stres yang mereka alami. Kaum-kaum seperti ini tidak mungkin bisa membeli hiburan yang lebih daripada pasar malam.

Kadang-kadang mereka tidak menikmati satu wahana pun, bagi mereka melihat keceriaan yang terpancar dari pasar malam ini sudah lebih dari cukup untuk penghilang penat. Abah Jajang masih terus mengamati kerja buruh pasar malamnya. Suara dentaman musik dangdut membahana, kerlip cahaya lampu sorot menembus ke sana kemari.

Konsentrasi Abah Jajang dibuyarkan oleh bocah lelaki dekil yang menarik dan mengayun-ayunkan jaketnya.

“Ada apa? Mau minta uang?” Abah Jajang melotot ke arah bocah dekil itu.

“Pak, saya boleh bekerja di sini?” Tanya bocah itu dengan lirih.

“Hah… Mana mungkin anak sekecil kamu bekerja di pasar malam. Mau jadi apa? Pekerjaan di sini berat-berat. Kamu pasti tidak kuat.”

“Tapi saya butuh kerja, Pak?”

“Anak kecil kok butuh kerja, kayak orang tua saja. Memangnya orang tuamu tidak kerja?” Selidik Abah Jajang dengan mata melotot, wajahnya terlihat sangar karena sorotan lampu.

“Ayah saya pergi entah ke mana, Pak. Ibu saya hanya buruh cuci. Saya ingin membantu ibu agar bisa membeli susu untuk adik saya, Pak.” Tutur bocah itu dengan lugu.

“Nama kamu siapa?” Bocah itu semakin tertunduk mendengar kata-kata Abah Jajang yang terdengar keras.

“Nama saya Ali, Pak. Saya tinggal di kolong jembatan tidak jauh dari sini.”

“Kamu bisa apa?”

“Saya bisa mencuci piring, saya bisa mencuci baju, saya juga bisa memijit.”

“Ha ha ha, memijit? Kamu kira ini panti pijit yang butuh tukang pijit. Ini pasar malam, Nak! Tempat orang bekerja keras. Sudah kamu pulang sana dan jangan ganggu saya. Ini saya kasih uang buat beli kembang gula. Bawa pulang bagi saja sama adikmu!” Bentak Abah Jajang.

“Tapi Pak, saya benar-benar ingin bekerja. Ingin membantu ibu saya” Ali semakin memelas di hadapan Abah Jajang.

“Ya sudah besok pagi-pagi kamu datang ke sini. Saya mau lihat kamu bisa kerja apa.”

“Tapi Pak, kalau pagi saya sekolah. Bisanya sore atau malam.” Tutur Ali

“Kamu mau bekerja tidak! Kalau tidak mau yang sudah jangan kemari lagi dan jangan ganggu saya.” Mendengar perkataan Abah Jajang, Ali langsung pergi meninggalkan Abah Jajang karena ketakutan.

Pagi hari buta, Ali benar-benar datang ke sepetak tanah itu. Ali datang untuk menemui Abah Jajang yang menjanjikan pekerjaan untuk dia. Ali nampak celingak-celinguk di antara wahana yang terbuat dari onggokan besi tua itu. Ali melihat dengan seksama puluhan pekerja sedang asyik memadu mimpi mereka. Mereka tidur di tempat seadanya dengan melingkarkan badan dan berselimut sarung.

Ali melihat Abah Jajang sedang tidur di lapak karcis. Ali hanya terduduk di depan kotak triplek tempat Abah Jajang tidur. Dia tidak berani membangunkan, dia hanya menunggu sampai Abah Jajang benar-benar bangun dari tidurnya.

Ali akhirnya merasakan kebosanan tatkala menunggu Abah Jajang bangun. Dia berjalan di areal pasar malam yang sudah terik karena matahari. Di siang hari pasar malam ini bagai pasar mati karena tak ada denyut nadi kehidupan di sini. Sepi dan lengang!

Dia menuju ke wahana komidi putar, dia duduk di atas replika kuda yang usang. Kadang dia turun dan memutar sendiri komidi putar itu untuk kemudian dia melompat menaikinya lagi. Komidi putar di pasar malam ini memang digerakkan dengan tenaga manusia, bukan tenaga mesin. Suara derit besi usang itu membuat salah satu pekerja terbangun karena merasa terganggu.

“Hai bocah dekil, jangan mainan di sana. Pasar malam sedang tutup, kalau mau main nanti malam saja” Teriak pekerja yang merasa terganggu.

“Saya di sini menunggu pemilik pasar malam ini bangun. Dia berjanji akan memberi saya pekerjaan jika pagi ini saya ke sini.” Papar Ali kepada pekerja itu.

Teriakan Pekerja itu akhirnya membangunkan Abah Jajang. Dia lantas menuju sumber suara. Abah Jajang melihat seorang bocah lelaki dengan mengenakan seragam merah putih yang usang sedang berada di atas komidi putar.

“Bocah ini ternyata tak main-main.” Gumam Abah Jajang.

“Hai Bocah, apa kau tidak sekolah?” Tanya Abah Jajang. Ali hanya menundukkan kepala kemudian menggelengkan kepala.

“Kenapa kau tak sekolah?” Cecar Abah Jajang

“Saya tadi malam sudah berjanji akan ke sini karena akan diberi pekerjaan. Saya tidak mau sekolah, sekolah mahal. Kasihan ibu saya.” Teriak Ali.

“Tapi sekolah itu penting buat kamu.”

“Tidak! Sekolah itu tak penting buat saya, bagi saya yang terpenting adalah bisa mendapatkan uang untuk membantu ibu untuk membeli susu untuk adik saya.” Ali menjawab dengan tegas.

Mendengar itu, Abah Jajang tertegun sembari melihat di sekitar areal pasar malam.

“Ya sudah kalau kamu mau bekerja. Sana bantu Abang yang ada di sana mengecat pagar besi.” Abah Jajang memberikan pekerjaan sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.

Ali langsung sumringah mendengar kata-kata Abah Jajang. Dia langsung tersenyum sembari berlari menghambur menuju Abang yang sedang mengecat pagar besi. Dia sangat senang karena bisa bekerja dan mendapatkan upah yang nantinya akan diberikan kepada ibunya.

Dia berlari sembari mempreteli kancing baju putihnya. Dia melempar bajunya entah ke mana, baju itu melayang bertebaran dan menghujam tepat di atas mesin diesel usang. Serta-merta baju putih yang bertuliskan Tut Wuri Handayani itu berlumuran gemuk yang menghitam. Baju putih itu sudah tak nampak layaknya seragam sekolah melainkan nampak seperti kain lap bekas.

Bagaimana bisa Ali melupakan begitu saja seragamnya. Dia tak peduli lagi dengan sekolahnya. Seluruh raganya kini berselimut keceriaan karena mendapatkan pekerjaan. Dia dengan cekatan membantu mengecat pagar. Di saat anak seusianya menenteng buku dan pensil, dia menenteng kuas. Di saat anak seusianya bercengkerama di kelas, dia bercengkerama dengan teriknya matahari. Tubuh kerempeng Ali nampak hitam melegam dengan kilau yang berbuih karena keringat yang memantulkan terik matahari.

“Sekarang kita punya pembantu kecil. Siapa saja yang minta bantuan panggil saja namanya!” Teriak Abah Jajang.

Setelah membantu mengecat, Ali dipanggil pekerja yang lain untuk mencucikan baju. Barulah setelah itu dia diminta untuk memijit Abah Jajang dan disuruh fotokopi karcis masuk wahana.

Hari pertama, dia sudah mendapatkan banyak pekerjaan. Jelas raganya tak sekuat itu tapi batinnya yang mengalahkan rasa capai yang mencacah tubuhnya. Selepas senja Ali pulang ke rumahnya. Dia memberitahu ibunya kalau sekarang dia sudah bekerja.

“Mak, Ali sekarang sudah dapat kerja.”

“Kerja apa, Nak?” Tanya ibu Ali.

“Jadi buruh di Pasar Malam kampung sebelah.”

“Sekolah kamu bagaimana?”

“Ali nggak mau sekolah, Mak. Kasihan emak, sekolah kan mahal. Sekolah kan nggak penting, Mak. Kalau kerja kan dapat duit jadi bisa buat beli susu. Kalau urusan sekolah biar adik saja besok.”

Penuturan Ali membuat ibunya hanya mendengus panjang. Dia tak peduli anaknya mau putus sekolah karena memang selama dia merasakan biaya sekolah sangat mahal. Dalam hatinya senang karena anaknya mau bekerja.

Selepas magrib Ali bergegas menuju pasar malam lagi. Kali ini tugasnya hanya menyobek karcis. Begitulah kehidupan Ali kini, dia sudah menjadi bagian dari hingar-bingarnya dunia malam ala pasar malam. Dia sudah hampir setahun ini ikut dengan pasar malam Abah Jajang. Dia sudah melalang buana sampai Tangerang, Banten, Bandung, Cirebon. Sesekali dia pulang membawa uang untuk ibunya lantas pergi lagi.

Dia sudah benar-benar tak ingat lagi dengan bangku sekolahan. Setiap pagi dia harus menjadi buruh bagi pekerja dan malamnya dia bekerja menjadi penyobek karcis. Kini dia sudah menjadi pendorong komidi putar. Dia bersama tiga pekerja dewasa setiap malam harus mendorong komidi putar itu terus menerus. Pekerjaan ini lebih menguras bulir-bulir keringatnya.

Setiap malam dia harus merelakan kebahagiaannya demi kebahagiaan anak seusianya. Apalagi setiap musim libur sekolah, pastilah pasar malam dijejali anak sebayanya. Komidi putar inilah yang meninggalkan sebuah elegi bagi Ali.

Di antara hiruk pikuknya tawa anak seusianya, Ali berpuluh keringat demi tawa mereka. Ali pun tak mampu tertawa atau pun menertawakan nasib hidupnya. Pasar malam itulah yang akan dia cumbui setiap malam entah sampai kapan.

Anonim

Ekstensi untuk tulisan yang tidak diketahui penulisnya. Silakan hubungi kami jika Anda mengetahui penulis aslinya.
Anonim

Latest posts by Anonim (see all)

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan