Cinta Seribu Burung Kertas

Sewaktu Joe dan Anna baru pacaran, Joe melipat 1000 burung kertas buat Anna. Menggantungkannya di dalam kamar Anna. Joe mengatakan, 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu, Anna dan Joe setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua. Tetapi pada suatu saat Anna mulai menjauhi Joe. Anna memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis. Lebih tepatnya ke Paris, tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali-kali itu.

Sewaktu Anna mutusin Joe, dia berkata, “Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah.”

Setelah Anna pergi ke Perancis, Joe bekerja keras. Dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.

Sudah lewat beberapa tahun, karena pertolongan teman dan kerja kerasnya akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Anna, dia masih tidak dapat melupakannya.

Pada suatu hari hujan turun dengan derasnya, dari mobilnya Joe melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Anna. Dia ingin mereka melihat kalau Joe sekarang tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Villa dan perusahaan sendiri. Joe ingin mereka tahu kalau dia bukan lagi seorang yang miskin. Dia sekarang adalah seorang Bos.

Joe mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut. Hujan terus turun tanpa henti. Biarpun kedua orang tua itu memakai payung, tetapi badan mereka tetap basah terkena hujan. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, Joe tercengang dengan apa yang terlihat oleh matanya. Itu adalah tempat pemakaman.

Dia melihat di atas papan nisan Anna tersenyum sangat manis terhadapnya. Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Joe. Dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup.

Orang tua Anna memberitahu Joe, Anna tidak pergi ke paris. Anna terserang kanker, Anna pergi ke surga. Anna ingin Joe menjadi “orang”, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa dulu berbuat demikian terhadap Joe.

Anna bilang dia sangat mengerti Joe, dia percaya kalau Joe pasti akan berhasil. Anna mengatakan, kalau pada suatu hari Joe akan datang ke makamnya dan berharap dia akan membawakan lagi beberapa burung kertas untuknya.

Joe langsung berlutut, berlutut di depan makam Anna. Menangis dengan begitu sedihnya. Hujan pada hari Valentine itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Joe. Joe teringat senyum manis Anna yang begitu manis dan polos. Mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah.

Sewaktu kedua orang tua itu keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Joe sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.

“Hatiku tidak pernah menyesal,

Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,

1000 ketulusan hatiku,

Beterbangan di dalam angin

Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,

Melewati sungai perak,

Apakah aku bisa bertemu denganmu?

Tidak takut berapapun jauhnya,

Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.

Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,

Menambah kerinduan di hatiku.

Bagaimanapun dicari,

Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah..”

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan