Bukan Cinta Segitiga

Bukan Cinta Segitiga | Seharusnya aku tak membuka rahasia ini, tetapi sepertinya aku sudah tak tahan lagi untuk tak mengatakan bahwa aku semakin mencintaimu, setara cintaku pada istriku.

Aku tak mau membiarkan geliat di jantungku ini berdebam-debam sendirian menyesakkan rongga dadaku. Biarkan blog semprul rumah pemikiranku ini menjadi saksi, betapa selama lebih 7 bulan bersamamu aku selalu tergoda akan ke-montog bahenol-an tubuhmu, lepas cemlenthing-nya suara tawa dan tangismu, menyerah di sendu tatapan kedua bola matamu. Ah, aku benar-benar menggilaimu..

Aku masih ingat saat pertama kali memandang wajahmu, kau menangis menjerit kebingungan mencari kehangatan. Suara tangis sopran-mu memecah kebekuan dan keheningan Taman Bungkul malam itu. Tetapi aku hanya bisa menatapmu, tertegun mengagumi dan mensyukuri tubuhmu yang telanjang sempurna. Jantungku berdesir, aku seketika merasa menjadi laki-laki.

Bersamamu, aku tak lagi punya waktu membelai istriku, aku kehabisan pujian untuk menyanjung kewanitaan istriku. Aku merasa tak punya apapun selain untuk kuberikan padamu.

Sampai kemudian istriku tahu, dicercanya aku dengan segala cemburu, tanya, pinta dan iba. Direnggutnya tubuhmu dari pelukanku, aku terkesiap ingin marah, tetapi istriku malah menciummu.

Aku terdiam, tak bisa berbuat apa-apa. Sebab bagaimanapun, istriku adalah ibumu juga…

Anonim

Ekstensi untuk tulisan yang tidak diketahui penulisnya. Silakan hubungi kami jika Anda mengetahui penulis aslinya.

Postingan oleh Anonim (lihat semua)

Sebarkan!

Random Posts :

Tinggalkan Balasan