| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori RohaniJagalah HatiPenulis: Yustus Maturbongs | Diposting: 17 November 2010 | Komentar: 0 komentarMalaikat 1: "saudara-saudara, adakah yang sudah mendapat bocoran, kalau Tuhan akan kemana tahun ini?" Malaikat 2: "saya rasa Dia pasti ke Israel dan Palestina lagi, karena perang yang belum selesai-selesai" Malaikat 3: "ah, saya punya feeling, kalo Tuhan pasti ke Afrika untuk mengunjungi mereka yang terus bergulat dalam kelaparan dan kemiskinan!" Kemudian, seorang malaikat lagi berseru dengan suara lantang. Malaikat 4: "hei, buka mata kalian baik-baik, Tuhan pasti ke Indonesia. Di sana banyak sekali masalah !" Pembicaraan kemudian di ambil alih lagi oleh malaikat pertama, yang sepertinya sebagai ketua di situ. Malaikat 1: "ya sudah, supaya kita tidak bingung, kemana Tuhan akan berkunjung untuk Lebaran dan Natal kali ini, saya akan mewakili saudara-saudara sekalian untuk menanyakan langsung kepada yang Mulia" Akhirnya, malaikat pertama bertemu dengan Tuhan, pemimpin kerajaan Surga. Ia lalu menyatakan maksud kedatangannya . Ia pun bertanya pada Tuhan, di negara manakah Tuhan akan datang, apakah di Indonesia, Palestina, Israel, Afrika ataukah punya Tuhan punya agenda lain? Lalu dengan penuh bijaksana, Tuhan pun menjawab: "Saya tidak akan berkunjung ke negara manapun, saya akan berkunjung ke hati setiap manusia, karena manusia sekarang kurang menjaga hatinya!" Cerita di atas, memang hanya sebuah ilustrasi. Tetapi, sebagai orang-orang yang mengaku beriman, berakhlak, ataupun beragama, tidak dapat di pungkiri, menjaga hati untuk tetap bersih bukan perkara gampang. Mata kita boleh melihat, telinga boleh mendengar, otak bekerja keras untuk berpikir, namun akhirnya hati jugalah yang menjadi filter untuk sebuah "final decision". Bersyukurlah kalau keputusan akhir kita adalah sesuatu yang baik, berguna buat hidup orang lain. Namun, banyak juga kan yang salah mengambil keputusan? Ketika peristiwa pengeboman Ritz-Carlton dan JW Mariot kemarin, salah seorang teman saya membuat "shout out" di Facebook-nya, "dimanakah hati para teroris itu?". Sontak saja, banyak sekali komentar yang masuk. Kebanyakan menjawab, ngga punya hati. Kalau saya melihat, teroris itu punya hati, buktinya mereka bisa mengambil keputusan untuk menebar teror di mana-mana, karena dari hati dapat menghasilkan dua keputusan akhir, baik atau jahat. Namun, keputusan yang mereka ambil adalah keputusan dari hati yang salah arah. Filternya tidak berfungsi lagi, sehingga tidak heran, kalau metode perekrutan anggota teroris itu adalah doktrin yang terus menerus. Tidak saja mencuci otak, tapi mencuci hati. Lalu, para teroris itu kehilangan "sense of humanity". Dalam peristiwa yang lain, sering kita mendengar kata-kata "moral pejabat yang tidak benar" jika ada pejabat di negara kita yang tersandung kasus korupsi. Kalimat "moral pejabat" sebenarnya hanya sebuah pengkhususan dari "moral manusia". Ada banyak pengkhususan lainnya, seperti moral guru, moral polisi, moral pengacara, moral mahasiswa dan lain sebagainya jika tersandung sebuah penyimpangan. Lalu, akarnya dari mana lagi? Jawabannya adalah hati. Jika para pejabat itu bisa menjaga hati, menahan godaan, saya pikir korupsi akan di hancurkan dalam hati. Keputusan menolak melakukan korupsi, adalah keputusan yang memakai hati nurani, bukan hati yang hedonisme ataukah materialistik. Sekarang juga lagi ramai di mana-mana, semua orang protes dan tidak setuju dengan sikap Malaysia yang mengklaim hak milik budaya Indonesia. Reog, anklung, lagu Rasa Sayang, hingga sekarang Tari Pendet di klaim milik mereka (Malaysia). Di facebook, twiter dan forum-forum jejaring sosial lainnya, komentar-komentar pun beragam. Ada yang menulis, yang mungkin dengan perasaan emosi, "pemerintah Malaysia punya hati ngga sih?". Yah, mungkin yang kasih koment itu yang harus di jaga hatinya, biar emosinya tidak membias menjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Jangan terpancing! Itu seruan yang positif. kalau kita terpancing, terus demo, kemudian ada orang-orang yang memanfaatkan keadaan ini, bisa berubah menjadi anarkis kan? Lalu, akhirnya orang Malaysia yang berbalik menertawakan kita dan bisa saja mereka bilang, justru kita yang tidak punya hati, rusuh terus. Pokoknya jangan sampai terjadi. Akhirnya, saya mengajak kita, siapa saja, tanpa memandang agama dan suku, yang mengaku beriman, ber-Tuhan, beragama untuk terus menjaga kedamaian dan kerukunan di negara ini. Meskipun saya bukan seorang muslim, saya merasa perlu menjaga hati saya, menghargai saudara-saudara kaum muslim agar ibadah puasanya dapat berjalan dengan baik. Untuk saudara-saudaraku kaum muslim, mari gunakan momentum bula puasa ini, untuk terus mendekatkan diri pada Tuhan. Mungkin benar juga, Tuhan saat ini sedang mengetuk hati kita semua. Kita tidak perlu lagi bertanya pada rumput yang bergoyang, seperti kata Ebiet G Ade, namun bertanyalah pada hati kita masing-masing, kenapa bangsa ini dan dunia pada umumnya mengalami begitu banyak masalah dan cobaan. Menutup tulisan ini, saya mengutip sepenggal syair dari lagu yang paling saya suka dengar di saat bulan puasa. Jagalah hati, Jangan kau cemari Jagalah hati Cahaya ilahi.. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Emha Ainun Nadjib
![]() Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||