| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori RohaniFestival Meja MakanPenulis: Anonim | Diposting: 14 April 2011 | Komentar: 0 komentarDimulai dengan air putih dalam gelas kaca bercorak belimibng. Ia terlihat mulai bergerak-gerak gelisah. Riak airnya terdengar begitu gaduh. Andai saja ia mengisi penuh wadahnya, tentu saja sebagian telah tumpah ke meja makan, terpisah dari kawanannya. Perbuatan air putih kini berhasil memprovokasi sepotong daging sapi berlumurkan bumbu yang telah bertransformasi menjadi makanan khas padang yang pedas: rendang. Ia mulai beremoh. Mungkin kesadaran masa lalunya sewaktu masih menjadi sapi mulai bangkit kembali. Emohan yang mulanya terdengar pelan, berat dan tak bertenaga kini mulai mengeras dengan intensitas yang semakin tinggi. Daging rendang terdengar menyatakan sikap setuju pada kegelisahan air putih. Melihat reaksi dari kawannya, ulah air pun semakin menjadi. Suara riak air yang tadinya terdengar saru kini semakin terang. Semakin jelas bahwa riak itu menyatakan sebuah sikap protes. Tentu saja protes yang tak aku pahami. Sendok dan garpu yang mulanya lebih memilih untuk bersikap netral dan pasif rupanya terbakar juga emosi solidaritasnya. Atau mungkin mereka tak kuasa menahan beban moral-yang selama ini disimpan rapat-rapat dalam alam bawah sadarnya-menjadi eksekutor bagi daging rendang dan sejenisnya. Peristiwa ini mereka jadikan momment untuk membuktikan pada daging rendang bahwa selama ini ia terpaksa menjalankan tugas, dan sebenarnya “kami juga berada pada pihak kalian”! Sendok dan garpu mulai beradu, saling menggesek-gesekkan dan sesekali saling membenturkan tubuhnya. Mereka menjadi semacam chear leaders bagi air putih dan rendang yang sedang berlaga, demo yang sedikitpun tak ku mengerti Melihat semangat patriotik rakyatnya yang begitu tinggi tak ayal membuat sang pimpinan tersadar atas kemengalahannya selama ini. Jantungnya berdetak semakin kencang. Aliran darah yang beredar dalam tubuhnya kini terasa panas dan sanggup memanaskan kedua matanya yang terlihat semakin merah. Sesaat memorinya melayang ke sebuah area persawahan saat dirinya masih menjadi pohon padi. Ia teringat bagaimana dirinya berjuang keras demi mempertahankan hidup. Dengan tetap berdiri ia harus kuat melawan tikus-tikus sawah yang cekatannya bukan main. Tubuh-tubuh tikus yang bagi manusia hanya menimblukan sensasi geli, namun baginya ia adalah ancaman hidup. Ia pun teringat pada jasa sahabat lamanya, ular sawah. Belum lagi kesalnya menghadapi burung-burung nakal yang begitu doyan memacoki dirinya. Dan lagi-lagi ia hanya bisa menghadapinya dengan terpaku sambil sedikit berharap pada orang-orangan sawah, hasil kreasi dari pak tani yang kreatif. Ia pun bersyukur pada pak tani. Perenungan kilat ini membawanya pada sebuah kesadaran revolusi. “Demi Dewi Sri yang memberkahi diriku dengan anugerah hidup, aku tak boleh mati sia-sia”. Kini matanya yang telah merah menyala beredar mengelilingi air putih, daging rendang, sondok, garpu, dan rakyatnya yang lain yang memang menunggu titah rajanya dengan harap-harap cemas. Akhirrnya revolusi pun dimulai. Dengan lantang nasi memberi komando “Hanya ada satu kata, LAWAAAN”! Sesaat kegaduhan menghilang, tergantikan dengan hening yang membius. Tak ada gerak ataupun isyarat. Suasana terasa mencekam. Hanya terlihat mata-mata prajurit yang menatap patuh pada komandannya. Namun setelah sekian detik berlalu, kini meja makan terdengar begemuruh dengan sorak sorai dan yel-yel pembakar semangat. Lauk pauk yang mulanya menggugah selera kini berubah menjadi prajurit-pajurit perang yang siap mati demi sebuah tuntutan, yang sekali lagi masih belum aku mengerti. Kulihat sebuah festival gaduh di meja makan. Bukan hanya para pionir saja yang beraksi, namun kini semua anggota meja makan telah terlibat aktif. Sambal berteriak, lalap berorasi, dua potong tempe lompat-lompat tak jelas, bahkan kerupuk pun berkomat-kamit seperti mengirimkan jampi jahat untukku. Dan sang komandan, nasi dapat kulihat murkanya begitu menyalak-menyalak. Sepintas aku miris melihatnya. Di hadapan bala tentaranya ia terlihat begitu gagah seperti Saladdin saat memipin pasukan muslim dalam perang salib. Ingin terhindar dari dominasi mereka, aku putuskan untuk menyerang balik mereka semua. Dengan satu hantaman keras tangan kanan ke meja makan,”Stop”! Mereka semua terdiam. Kini keheningan kembali menjalar mengitari meja makan. Semua anggota meja makan kembali terpaku berhenti dari aksinya. Bahkan kerupuk pun berhenti berdoa. Atmosfer meja mekan terasa begitu dingin, mencekam. Walau aku tahu pasti mereka diam bukan karena takut mati melainkan komando dalam isyarat yang diberikan komandan nasi. Kutatap nasi dengan amarah. Ia balik menatapku dengan sorotan mata menuntut. Di matanya kulihat ia memendam kepiluan teramat dahsyat yang hanya bisa dibandingi dengan kepiluan Ibis saat diusir Tuhan yang telah ia sujudi beribu-ribu tahun. Perlahan namun terdengar menggelegar, ia berbicara yang diarahkan hanya untukku, “Kami hanya menuntut apa yang seharusnya engkau tunaikan. Tolong, sempurnakan qada dan qadar kami”! (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Aesop
![]() Aesop dikenal karena cerita-cerita fabel yang dianggap berasal dari dia. Berbagai macam kumpulan fabel dari Aesop masih diajarkan sebagai pendidikan moral dan digunakan sebagai subyek dari berbagai macam hiburan, khususnya dalam ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||