| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori RenunganMakan Tak Habis, Ayam MatiPenulis: Anonim | Diposting: 07 Nopember 2008 | Komentar: 0 komentarTernyata setelah dihayati dan direnungkan ternyata ada maksud baik dan mulia dari adanya peraturan tak tertulis itu tadi... Menghabiskan makanan yang akan kita makan tadi merupakan penghormatan kepada makanan itu sendiri dan kepada banyak pihak yang turut andil terhadap hadirnya makanan tersebut di meja makan kita. Bayangkan bagaimana perjalanan sebutir nasi itu untuk ada di piring kita masing-masing. Sudah banyak proses yang dijalani oleh sebutir nasi itu. Banyak orang pula yang turut andil terhadap proses tersajinya makanan itu. Nasi berasal dari bibit padi yang ditanam petani yang kemudian menjadi beras. Sayuran yang kita makan diperoleh dari petani sayur yang bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh menjaga dan merawat sayur hingga masa panen tiba. Ikan yang kita makan berasal dari para nelayan yang mencari ikan di laut. Kita juga tak bisa menepikan peran penting dari para pedagang yang menjual lalu kita beli dan muncul pada sebuah piring di meja makan kita lewat sebuah proses yang bernama masak-memasak di dapur. Beras, sayur, ikan dan yang lainnya tersebut kemudian dimasak menggunakan kompor entah itu yang menggunakan minyak tanah atau gas supaya menjadi nasi yang akan kita makan nanti. Sementara gas dan minyak tanah yang kita gunakan tersebut dihasilkan oleh para penambang yang berkerja di kilang pengeboran minyak atau gas bumi. Jadi begitu banyak peran orang-orang disekitar kita demi hadirnya makanan yang kita santap tersebut. Jadi hikmah dari menghabiskan makanan tersebut adalah kita menghormati begitu banyak orang yang telah berjasa kepada kita serta senantiasa bersyukur akan adanya makanan tersebut. "Karena bila ada sebutir nasi saja yang tercecer karena tidak kita habiskan, ibaratnya nasi tersebut akan menangis," begitulah pesan dari bibiku di Trenggalek untuk selalu mengingatkanku yang selalu kucamkan di otakku hingga saat ini. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Emha Ainun Nadjib
![]() Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||