| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori RenunganBunda, Kau Memang LegendaPenulis: Haddad Alwi | Diposting: 26 Juli 2008 | Komentar: 0 komentar...ingin kuceritakan padamu beberapa peristiwa yang belum pernah kusampaikan padamu. Sejak lama aku menyimpannya dalam hati dan ingatanku. Selalu saja aku tergoda untuk menyampaikannya. Ada saja hambatan moral yang kurasakan, tanpa sebab-sebab yang jelas. Mungkin sekedar budaya timur yang tidak terbiasa mengungkapkan isi hati secara terbuka. Tapi kali ini, rasanya aku seperti terdesak harus menyampaikannya, bahkan menuliskannya sebagai catatan kecil ini. Justru pada usiaku yang lebih dari dewasa ini, kebutuhanku kepadamu wahai bunda, makin menjadi-jadi. Aku ingin kembali kau timang, duduk dipangkuanmu sambil merapatkan kepalaku didadamu yang memberi rasa aman dan nyaman. Bahkan sesekali aku ingin merengek seperti masa kecilku dulu. Tidak ada tempat lain yang lebih sejuk darimu, bunda. Kau sendiri seringkali, sambil tersenyum-senyum menceriterakan kembali bagaimana elusanmu pada ubun-ubunku,cukup membahagiakanku. Sungguh bunda,...tapak kakimu adalah sorga bagiku. Dalam pandanganku engkaulah ibu, yang dimaksudkan sebagai ibu, dalam arti kata yang sesungguhnya. Dimana aku tidak merasa malu atau enggan bahkan bila engkau melihat cacat dan kelemahanku. Dihadapanmu aku tidak bisa lain, kecuali sebagaimana adanya. Bagaimana tidak !? Engkaulah orang pertama kali yang menutupi auratku dengan pelukanmu sejak aku kau lahirkan dulu. Engkau bahkan telah mengenal tingkah polahku sejak dalam rahimmu. Setelah Allah swt, engkaulah yang paling mengenal diriku. Sekarang, aku seperti butuh dimanja. Begitulah kira-kira perasaanku saat ini. Agaknya bila kini aku tak tahan untuk menyimpan ceriteraku lebih lama, sebenarnya itulah bentuk kemanjaanku yang baru. Begini bunda,... saat kuantar anakku masuk sekolah tk untuk pertama kalinya, kulihat dia, anakku, berbaris bersama murid-murid baru yang lain. Sebentar-sebentar ia menengok padaku. Tampak diwajahnya kekhawatiran, takut kalau-kalau aku tiba-tiba pergi meninggalkannya. Kau tahu bunda, apa yang kurasakan saat itu ? Hatiku menjerit, ingin rasanya berteriak agar ia mendengar dan yakin, bahwa aku ayahnya, tak kan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. Saat itulah, aku mulai bisa sedikit merasakan, begitulah kira-kira perasaanmu dua puluh delapan tahun yang lalu, ketika engkau melakukannya untukku. Tiba-tiba saja aku teringat kembali, beberapa peristiwa yang sangat berpengaruh dalam hidupku, sehubungan dengan ke-ibu-anmu, wahai bunda. Mungkin kau lupa bunda, karena betapa banyaknya yang telah kau lakukan untuk kami. Juga karena engkau melakukannya memang bukan untuk di-ingat-ingat. Bila kau ingat juga, itu pasti karena sejarahku yang melekat tak terpisahkan dengan perjalanan hidupmu. Usiaku baru enam tahun. Itulah usia yang layak dikhitan sesuai kebiasaan dikampungku. Waktu itu, di rumah hanya kita berdua.. dan memang, hanya engkaulah, yang kubutuhkan. Aku mendesak membutuhkan rasa aman dan perlindungan yang tulus saat itu. Dan itu hanya bisa kudapatkan darimu. Saat saudara-saudaraku yang lain berada disekolah,...alhamdulillah pikirku, kehadiran mereka tentu akan menambah rasa maluku. Justru saat hanya berdua denganmu bunda, aku bisa bebas bermanja tanpa resiko di ejek kakak-kakakku. Waktu itu, dengan penuh kelembutan dan kesabaran engkau menemaniku. Setiap kali aku mengeluhkan rasa nyeri sakitku, pandangannya mengatakan, betapa bahagianya, kalau aku bisa menggantikan deritanya itu. Berbagai cara kau lakukan agar aku tidak merasakan rasa sakitku.: "Apa yang kau inginkan nak ? begitu tanyamu, sambil setengah memeluk tubuhku ditempat tidur. Kebiasaan dikampungku, setiap anak yang dikhitan hadiahnya adalah uang. Aku tahu, kau tak pernah mempunyai cukup uang, karenanya aku minta seratus rupiah, sebagai rasa tidak tega, menolak tawaranmu yang tulus itu. Ingatkah kau bunda, saat aku jatuh dari sepeda motor dan tulang belakangku retak. Aku tak boleh banyak bergerak, menahan rasa nyeri dengan posisi tetap. Sepanjang malam itu selalu saja kau terjaga dari tidurmu, mendengarkan isakan tangisku. Seperti merawatku dikala bayi. Penuh kasih sayang, tulus, tanpa mengeluh, sendirian tanpa ada yang menemani. Sementara bila aku terlelap tidur, engkau memandangiku penuh kebahagiaan dalam keletihanmu. Sering kali aku menangis setiap kali mengingatnya kembali... Ketika kita sholat subuh bersama. Setelah selesai sholat, aku menangis karena harus menjauhi gadis yang aku cintai. Orang tuanya menolak maksud baikku. Hanya kaulah saat itu yang bisa menghibur dan memberi semangat hidup padaku. Aku ingat, sambil membelai punggungku kau besarkan hatiku dan meyakinkanku : "Percayalah nak, gadis itu akan jadi milikmu. Apa yang terbaik bagimu itulah yang komohonkan dalam doa-doaku.." (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Aesop
![]() Aesop dikenal karena cerita-cerita fabel yang dianggap berasal dari dia. Berbagai macam kumpulan fabel dari Aesop masih diajarkan sebagai pendidikan moral dan digunakan sebagai subyek dari berbagai macam hiburan, khususnya dalam ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||