Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Renungan > Berkasih Sayang Tanpa Ucapan
 
 

Kategori Renungan

Berkasih Sayang Tanpa Ucapan

Penulis: Anonim | Diposting: 23 Februari 2011 | Komentar: 0 komentar

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Suatu hari saya ditraktir makan mie oleh teman saya di kedai mie yang lumayan ramai. Harganya tak mahal tetapi sedap. Kami duduk di meja bulat yang dapat menampung sepuluh orang bila mengelilingi meja. Di meja itu ada enam orang, saya, teman saya dan empat orang kawan yang lain.

Ketika asyik makan, ada satu keluarga datang dan duduk di sebelah kami. Mereka pun memesan mie dan menunggu pesanan. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami isteri yang masih muda dan seorang anak yang berusia dalam enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaian mereka lusuh dan kusam.

Anaknya kelihatan seperti baru sembuh dari penyakit. Ingusnya tampak keluar masuk dari hidungnya. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk dari hidung anaknya. Pasangan itu tampak sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Seolah-olah acara makan mie tersebut merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Ketika mie sudah sampai keluarga tersebutpun akhirnya makan dengan lahapnya.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang keluar masuk hidung dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.

Setiap kali menyuap mie ke mulut sambil menghirup kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak beberapa lama kemudian, keempat kawan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat hal itu ada rasa malu yang terpancar di wajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat lainnya.

Tetapi itu tidak lama, terutama ketika mereka melihat teman saya tetap memakan mie dengan lahapnya. Keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie tanpa mengendahkan orang lain. Seolah-olah tidak ada bau di sekitarnya dan tidak ada bunyi ingus. Saya juga terpaksa berpura2 tidak mengindahkannya dan terus menghabiskan mie karena ingin menghormati teman saya yang mentraktir saya makan.

Selesai makan, kami masih duduk dua puluh minit sebelum meninggalkan kedai makan. Saya salut dengan teman saya yang luar biasa. Biasanya setelah makan, dia hanya duduk paling lama sepuluh minit. Sekali lagi saya terpaksa menemani teman saya dengan perasaan yang agak jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan dia sangat terganggu duduk berdampingan dengan keluarga tadi. Ia merasa sangat bau dan terganggu dengan bunyi ingus anaknya itu. Dia juga merasa seperti apa yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika dia meninggalkan keluarga tersebut ketika mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami, tetapi tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar kata kata teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang berbeda - bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan- telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Saya teringat bagaimana rasa malu, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami isteri itu ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang seolah tak terpengaruh dengan keberadaan mereka.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyedari bagaimana untuk mengasihi sesama manusia tanpa mengatakannya benar-benar tidak mustahil. Teman saya dapat menunjukkan kasih sayang kepada sesama saudara tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Menunggu dua puluh minit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.

Ajaib! Bagaimana teman saya telah berhasil mengingatkan saya tanpa mengatakan sesuatu. Dia tidak menuduh tetapi cukup membuat saya merasa sangat terpukul dan malu , namun tidak merasa marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri, betapa sangat sering kita mengatakan mengasihi sesama manusia tetapi tidak pernah melakukannya. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Emha Ainun Nadjib
Foto Emha Ainun Nadjib
Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori RenunganBerkasih Sayang Tanpa Ucapan
Suatu hari saya ditraktir makan mie oleh teman saya di kedai ...
Artikel Kategori RenunganBerikan Ketulusan, Bukan Kesempurnaan
Beberapa buruh menemui sang majikan. Mereka mengeluhkan ongkos angkutan yang semakin ...
Artikel Kategori RenunganBerawal dari Sebuah Sapaan
"Ga usah" jawaban bersahabat dari seorang kenek bis kota kampus itu ...
Artikel Kategori RenunganBelajar Menjadi Manusia
“Tugas manusia adalah menjadi manusia.” (Multatuli) Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, adalah cermin ...
Artikel Kategori RenunganBelajar Dari Kesalahan
Orang bilang, manusia tempatnya salah dan lupa. Pernyataan ini sudah seringkali ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
8
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -