| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori RenunganBerkasih Sayang Tanpa UcapanPenulis: Anonim | Diposting: 23 Februari 2011 | Komentar: 0 komentarKetika asyik makan, ada satu keluarga datang dan duduk di sebelah kami. Mereka pun memesan mie dan menunggu pesanan. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami isteri yang masih muda dan seorang anak yang berusia dalam enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaian mereka lusuh dan kusam. Anaknya kelihatan seperti baru sembuh dari penyakit. Ingusnya tampak keluar masuk dari hidungnya. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk dari hidung anaknya. Pasangan itu tampak sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Seolah-olah acara makan mie tersebut merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Ketika mie sudah sampai keluarga tersebutpun akhirnya makan dengan lahapnya. Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang keluar masuk hidung dan sesekali dibersihkan oleh ibunya. Setiap kali menyuap mie ke mulut sambil menghirup kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak beberapa lama kemudian, keempat kawan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat hal itu ada rasa malu yang terpancar di wajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat lainnya. Tetapi itu tidak lama, terutama ketika mereka melihat teman saya tetap memakan mie dengan lahapnya. Keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie tanpa mengendahkan orang lain. Seolah-olah tidak ada bau di sekitarnya dan tidak ada bunyi ingus. Saya juga terpaksa berpura2 tidak mengindahkannya dan terus menghabiskan mie karena ingin menghormati teman saya yang mentraktir saya makan. Selesai makan, kami masih duduk dua puluh minit sebelum meninggalkan kedai makan. Saya salut dengan teman saya yang luar biasa. Biasanya setelah makan, dia hanya duduk paling lama sepuluh minit. Sekali lagi saya terpaksa menemani teman saya dengan perasaan yang agak jengkel. Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan dia sangat terganggu duduk berdampingan dengan keluarga tadi. Ia merasa sangat bau dan terganggu dengan bunyi ingus anaknya itu. Dia juga merasa seperti apa yang saya rasakan. Teman saya juga mengatakan, jika dia meninggalkan keluarga tersebut ketika mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami, tetapi tidak bagi keluarga itu. Saya sangat terkejut mendengar kata kata teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang berbeda - bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan- telah memberi semangat baru bagi keluarga itu. Saya teringat bagaimana rasa malu, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami isteri itu ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang seolah tak terpengaruh dengan keberadaan mereka. Pertama kali dalam hidup ini, saya menyedari bagaimana untuk mengasihi sesama manusia tanpa mengatakannya benar-benar tidak mustahil. Teman saya dapat menunjukkan kasih sayang kepada sesama saudara tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Menunggu dua puluh minit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman. Ajaib! Bagaimana teman saya telah berhasil mengingatkan saya tanpa mengatakan sesuatu. Dia tidak menuduh tetapi cukup membuat saya merasa sangat terpukul dan malu , namun tidak merasa marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri, betapa sangat sering kita mengatakan mengasihi sesama manusia tetapi tidak pernah melakukannya. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Emha Ainun Nadjib
![]() Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||