Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Motivasi > Belajar Apapun!
 
 

Kategori Motivasi

Belajar Apapun!

Penulis: Yoka Pramadi | Diposting: 17 November 2010 | Komentar: 0 komentar

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Setiap kali mendengar kata belajar, sepertinya hampir semua telinga berdengung. Itu pun terjadi pada telinga saya. Belajar bukan kata yang perlu ditakuti atau dihindari bahkan tak perlu dijadikan kambing hitam. Kenapa kita selalu mengasumsikan kata belajar dengan sesuatu yang kesannya serius, formal, kaku, membosankan, dan kata-kata yang bernilai negatif. Harusnya kita menyadari bahwa sejak kita dilahirkan kedunia ini, kita tak pernah luput atau lepas dari kata yang satu ini. Sejak bayi kita belajar menangis..apa benar menangis itu belajar? baiklah ambil contoh yang lain, ketika kita berumur 1 tahun kita belajar merangkak, kemudian dilanjutkan dengan belajar berjalan, dan belajar mengucapkan kata "mama". Banyak contoh yang bisa kita ambil bahkan sejak kita masih belum mengerti esensi dari belajar itu sendiri.

Ketika kita menginjak masa remaja, kata belajar ini semakin rumit atau semakin membuat kita penuh beban. Tak seperti dulu waktu kita balita yang dengan riang gembiranya melewati masa-masa belajar. Orang tua kita sering menyebutkan atau bahkan meneriakkan kata belajar penuh dengan pengharapan dan tekanan. "Kamu sudah belajar apa hari ini?" , "Kenapa kamu tidak belajar, malah main terus?", "Belajar sana!jangan males-malesan!", "Belajar kamu!atau uang jajan mami potong!". Apa yang terjadi dengan belajar di masa-masa seperti ini? saya teringat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ibu saya pernah berkata "Kamu kenapa ga belajar, katanya mau jadi dokter?"

Kata belajar terus terngiang di telinga saya sampai saya menginjak dewasa. Kemudian saya menyikapinya dengan penuh beban. "Apakah benar saya harus giat belajar biar saya jadi dokter nantinya" hati kecil saya berbisik. Namun kenyataan berkata lain saya tidak jadi dokter saat ini, dengan catatan bahwa saya sudah belajar dengan giat pada waktu Sekolah Menengah Umum agar bisa masuk Perguruan Tinggi baik itu Negeri ataupun Swasta yang memiliki jurusan Kedokteran. Kesimpulan salah yang mungkin saya bisa saya ambil pada saat itu adalah tidak perlu giat belajar, toh saya tidak jadi dokter. Namun kesimpulan bijak yang bisa kita ambil dari kasus di atas adalah "ternyata diperlukan bukan sekedar giat belajar untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang ingin kita raih", ada faktor-faktor lain yang memang harus kita penuhi dan tentunya ada faktor X yang kita tak pernah ketahui sebelumnya.

Dari semua itu saya mendapati hal yang luar biasa dari kata belajar ini. Pada masa pertengahan kuliah, saya menyadari satu hal yang merubah pandangan saya akan kata belajar. Kita tidak perlu selalu bergulat dengan buku-buku tebal, bacaan-bacaan yang penuh dengan teori dan itung-itungan untuk melakukan kegiatan belajar. Dan yang paling utama dari proses belajar adalah jangan pernah belajar kalau hanya ingin mengejar "nilai" berupa angka atau huruf mutu (10, 100, A, B, 3.5, 3.75, dll). Saya lebih menikmati prosesnya dan hasilnya lebih dengan pembuktian yang karya nyata (manfaat bagi diri sendir maupun orang lain). "Nilai" bukan tujuan utama, tapi menurut saya tujuan utama kita harus lebih mulia daripada itu.

Ketika kita berbicara dengan orang lain, saling bertukar pikiran atau pun beradu argumen dengan orang lain itu pun salah satu dari bentuk belajar. Saat berdiskusi tersebut, kita belajar mendengarkan pendapat orang lain, belajar menghormati pandangan hidup orang lain. Belajar Apa pun!karena dibalik pembelajaran itu semua pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil walaupun itu sedikit, buang yang kurang berguna-nya dan ambil yang berguna-nya bagi kita. Alasan kita tidak menyukai hal tersebut (subjek, topik, pelajaran) jangan selalu dikedepankan, karena "kita tidak pernah atau apa yang terbaik buat kita, tapi Tuhan tahu". Mungkin kita merasa A bukan yang terbaik (bermanfaat) buat kita, tapi siapa tahu sudah menuliskan A adalah yang terbaik buat kita.

Saya teringat akan perkataan Aesop, seorang budak semenanjung Balkan yang dibebaskan oleh majikannya dan akhirnya menjadi pembuat fabel terkenal, mengatakan "Penderitaan adalah pelajaran". Jadi jangan menunggu sampai kamu menderita sehingga mendapat pelajaran. Sadarkan dirimu dari sekarang juga, karena saya sangat menyesal tidak mengetahuinya dari dulu. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Emha Ainun Nadjib
Foto Emha Ainun Nadjib
Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori MotivasiBelajar Apapun!
Setiap kali mendengar kata belajar, sepertinya hampir semua telinga berdengung. Itu ...
Artikel Kategori MotivasiBekal Dalam Sebuah Kapal
Pada tahun 1845, ekspedisi Franklin yang sial berlayar dari Inggris untuk ...
Artikel Kategori MotivasiBahagia Adalah Pilihan
Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu ...
Artikel Kategori MotivasiAku Mau Mama Kembali
Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, ...
Artikel Kategori MotivasiAir dan Kopi
Kopi : "Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
7
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -