| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori FabelAir Susu Dibalas Air TubaPenulis: Anonim | Diposting: 13 Juli 2008 | Komentar: 2 komentarKalau serigala diceritakan selalu berbuat buruk, tidak demikian halnya dengan ular, singa, harimau dan buaya itu. Mereka kadang-kadang memiliki perangai yang baik budi. Ular misalnya, walaupun gigitan dan belitannya dapat membunuh manusia, tetapi kadang-kadang dapat diajak bersahabat. Beberapa fabel menunjukkan bahwa ular itu memiliki rasa terima kasih. Ingat peristiwa yang dialami oleh Ida Sri Adnya Dharmaswami dalam cerita Tantri. Ketika pendeta itu diikat akan dibunuh, ia diselamatkan oleh hewan-hewan yang pernah ditolongnya, antara lain ular. Sampai saat ini kami belum menemukan dongeng yang memperlihatkan perangai serigala yang baik budi. Dalam dongeng berikut yang diperankan oleh ular dan petani, terlibat pula si serigala yang memperlihatkan salah satu sifat buruknya di atas. Seorang petani mendengar sebuah jeritan yang menimbulkan rasa iba. Didekatinya sumber jeritan itu. Ternyata seekor ular terjepit batu. Mula-mula ia ragu-ragu apakah ular itu dapat menghargai pertolongan atau tidak. Tetapi karena belas kasihnya, akhirnya petani itu melupakan akal sehatnya. Ular itu diselamatkan. Namun sesaat kemudian, ular itu balik menyerang. Untung petani itu segera menghindar. ''Kamu ular licik!'' teriak petani. ''Mengapa kamu membalas budi baik dengan perbuatan buruk?'' ''Di sini berlaku hukum rimba, Tuan!'' jawab ular itu. ''Ke mana pun Tuan bertanya, budi baik harus dibalas dengan perbuatan buruk, itulah yang benar!'' Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat itu, mereka lalu mohon pertimbangan hewan-hewan lain. Kalau hewan-hewan lainnya juga membenarkan pendapat ular itu, maka sang ular berhak membunuh si petani. Tetapi kalau sebaliknya, maka petani itu berhak menghukum ular. Ternyata hewan-hewan yang dijumpainya seperti kuda dan domba membenarkan pendapat ular, yakni kebaikan dibalas dengan keburukan. Kuda dan domba sudah pernah merasakan kekejaman manusia. Memang benar manusia tidak punya rasa terima kasih. Oleh karena itu kebaikan harus dibalas dengan perbuatan buruk. Ketika kedua makhluk yang bersengketa itu melihat serigala dari jarak jauh, timbul akal petani itu. Tanpa setahu ular, petani itu bersekongkol dengan serigala. Kalau serigala itu mau menjawab sesuai dengan kehendak petani, maka serigala itu akan mendapat upah anak domba, anak babi dan itik yang gemuk-gemuk. ''Hai, serigala!'' seru ular sesaat kemudian. ''Menurut pendapatmu, kebaikan itu harus dibalas dengan apa?'' ''Ya, tentu saja dengan kebaikan!'' jawab serigala tegas. Petani itu sangat riang gembira karena telah memenangkan perkara. Ia lalu mengembalikan ular itu dalam keadaan terjepit batu. Setelah malam tiba, serigala mendatangi rumah petani untuk menagih upah. Petani itu membuka pintu, lalu menodongkan senapan ke arah serigala. ''Air susu harus dibalas dengan air tuba, tahu?'' kata petani itu. Siapakah di antara pelaku dongeng itu yang baik budi? Ular, kuda, domba, serigala ataukah petani? Ular sudah jelas tidak berbaik budi karena ia menerapkan hukum rimba. Kuda dan domba juga tidak mau menjalankan kebajikan, karena mereka pernah diperlakukan sangat kejam oleh manusia. Dan serigala mau menuruti kehendak petani karena sogokan yang dijanjikan. Serigala itu berbuat bijak hanya pada saat menguntungan. Dan bagaimana petani? Bukankah perasaan petani itu sangat halus sehingga merasa belas kasihan kepada ular yang kesakitan? Setelah berhadapan dengan berbagai masalah, yakni masalah dengan ular, masalah dengan kuda, domba dan serigala, petani itu mulai belajar dari pengalaman. Ternyata belas kasihan itu tidak hanya dijalankan menuruti perasaan, tetapi harus dibarengi dengan akal sehat. Sesungguhnya yang menjadi persoalan adalah perilaku membalas kebaikan dengan keburukan atau membalas air susu dengan air tuba. Pelaku kebajikan tidak perlu mempersoalkan kepada siapa pertolongan diberikan. Mereka hanya mengenal bahwa setiap orang wajib berbuat baik, dan setiap orang wajib menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Perangai buruk telah mendapatkan upahnya. Serigala dalam dongeng pertama, mati karena ditusuk oleh lelaki tua, ular dalam dongeng kedua dikembalikan posisinya dalam keadaan terjepit batu. Sungguh mulia perbuatan ilmuwan itu. Tetapi orang yang berbahaya pun, ia tetap mengulurkan tangan bantuannya. Tetapi tidak demikian perbuatan petani. Pengalaman buruk dan pahit telah mengubah perangai petani itu. Ia harus menodongkan senapan kepada serigala yang datang menagih upah. Kita hanya bisa berharap semoga petani itu tetap berbuat kebajikan, kendatipun menggunakan akal sehatnya. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarDikirim oleh: dedi pada 16 November 2010 nice story!
makasih banyak gan! Dikirim oleh: arif wachyudin pada 17 November 2010 sama-sama bro :) Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Andrie Wongso
![]() Andrie Wongso sering disebut sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia. Selain menjadi seorang motivator handal, Andrie Wongso juga dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||