Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Dongeng > Tulo dan Tulio
 
 

Kategori Dongeng

Tulo dan Tulio

Penulis: Anonim | Diposting: 19 Januari 2009 | Komentar: 0 komentar

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Mau pasang iklan juga? klik disini
Pada suatu ketika hiduplah dua bersaudara. Tulo si kakak dan Tulio si adik. Mereka sangat baik dan ramah. Namun ada keanehan pada tubuh mereka. Tulo memiliki kaki yang panjang setinggi rumah, namun tangannya pendek sekali. Sementara Tulio memiliki kaki yang amat pendek namun tangannya amat panjang sehingga bisa memeluk sebuah rumah. Anak-anak menyukai mereka. Namun orang dewasa menganggap mereka aneh. Tulo dan Tulio senang menghibur anak-anak. Mereka bercerita, melucu, bernyanyi…

Suatu hari Tulio berkata kepada Tulo, “Kak, aku mendengar cerita tentang kolam ajaib. Konon kolam itu bisa membuat tubuh kita normal. Aku tidak suka dianggap aneh dan ditertawakan. Ayo kita cari kolam ajaib itu.” Tulo berpikir sejenak. “Baiklah! Mari kita berpetualang mencari kolam ajaib itu!” ujarnya kemudian. Di sepanjang perjalanan, Tulo dan Tulio bertemu banyak orang. Ada yang menganggap mereka aneh, ada pula yang menerima mereka dengan senang hati. Yang jelas, kemanapun mereka pergi, mereka selalu menghibur anak-anak. Mereka bermain akrobat ataupun melucu.

Anak-anak sangat gembira melihat pertunjukan mereka. Lama-kelamaan orang dewasa pun mulai menyukai pertunjukan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio menjadi amat terkenal. Mereka diundang di berbagai perayaan dan pesta. Ketenaran mereka akhirnya terdengar Raja Tenggara.

Raja mempunyai masalah. Putranya sangat pemurung. Ia tidak mau tertawa dan amat pemarah. Sifat putranya itu membuat raja sedih. Dengan sifat seperti itu, putranya akan sulit menjadi raja yang dicintai rakyatnya kelak. Berbagai tabib, pelawak, tukang sulap, tak mampu membuat pangeran kecil itu tersenyum. Raja Tenggara akhirnya mencoba memanggil Tulo dan Tulio. Ia berharap Tulo dan Tulio berhasil.

Kedua kakak adik itu datang ke istana Raja Tenggara. Mereka mencoba menghibur pangeran kecil. Mereka menari, menyanyi, melucu, dan berakrobat. Mula-mula pangeran kecil tak tertarik. Namun lama-lama ia mulai memperhatikan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio memang berbeda dengan penghibur lainnya.

Mereka sangat menyukai anak-anak. Tulo membopong sang pangeran kecil di atas pundak. Pangeran pun dapat melihat kota dengan jelas. Tulio menggunakan tangannya yang panjang untuk mengayun tubuh pangeran. Pangeran kecil merasa terbang seperti burung. Wah, hanya Tulo dan Tulio yang sanggup melakukan hiburan seperti ini.

Pangeran kini mulai sering tertawa dan bergembira. Pangeran itu juga tidak pemarah dan egois lagi. Rupanya selama ini pangeran merasa kesepian dan bosan. Tulo dan Tulio mengajarinya cara berteman dan menjaga perasaan orang lain. Raja gembira luar biasa. “Mintalah apa saja. Pasti kukabulkan!” ujarnya pada Tulo dan Tulio. “Baginda yang baik. Kami dua bersaudara sebenarnya sedang mencari kolam ajaib.
Konon, kolam tersebut dapat membuat kami normal seperti orang lain. Jika Baginda tahu di mana tempatnya, ijinkanlah kami ke sana,” jawab Tulo.

“Itu bukanlah permintaan yang sulit. Kebetulan sekali kolam ajaib yang kalian maksud itu adalah milikku. Pakailah sesuka kalian!” Raja segera menyuruh pengawal mengantarkan Tulo dan Tulio. Sesampainya di kolam ajaib, Tulo dan Tulio langsung menceburkan diri ke dalam kolam ajaib. Luar biasa! Beberapa saat kemudian mereka menjadi orang normal. Kaki dan tangan mereka tidak lagi kepanjangan atau kependekan. Tulo dan Tulilo senang bukan main.

Kini Tulo dan Tulio tak perlu merasa berbeda dengan orang lain. Mereka menjalani hidup baru mereka dengan puas. Namun lama kelamaan, mereka merasa kehilangan sesuatu. Ada yang kurang dalam hidup mereka. Lama mereka berpikir. Akhirnya mereka sadar. Sekalipun keinginan mereka terpenuhi, namun mereka telah kehilangan sesuatu yang amat berharga.

Yah, mereka telah kehilangan diri mereka sendiri. Tulo dan Tulio yang dulu telah hilang. Tidak ada Tulo yang kakinya sering dipanjati anak-anak dengan riang. Tidak ada Tulio yang mampu mengayunkan pangeran kecil sampai tergelak-gelak. Tidak ada lagi Tulo dan Tulio yang dulu sangat dicintai anak-anak.
Orang banyak pun tidak dapat menyaksikan pertunjukan mereka lagi. Tulo dan Tulio mulai dilupakan orang.

Tulo dan Tulio mulai berpikir kembali. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya mereka kembali menghadap raja Tenggara. “Yang Mulia, kami sangat senang menjadi normal. Namun kami telah kehilangaan diri kami. Lama kami berpikir. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali menjadi Tulo dan Tulio yang dulu. Sekalipun aneh, itulah diri kami yang sesungguhnya,” ujar dua bersaudara itu.
Raja Tenggara kembali mengabulkan permintaan mereka. Raja menyuruh pengawalnya mengantar mereka ke kolam ajaib.

Tulo dan Tulio segera menceburkan diri mereka ke kolam itu. Dan sejak itu, tubuh mereka kembali seperti semula. Hidup mereka pun kembali gembira seperti dulu. Dikelilingi anak-anak yang mencintai mereka. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Emha Ainun Nadjib
Foto Emha Ainun Nadjib
Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori DongengTulo dan Tulio
Pada suatu ketika hiduplah dua bersaudara. Tulo si kakak dan Tulio ...
Artikel Kategori DongengSuri Ikun dan Dua Burung
Pada jaman dahulu, di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, hiduplah seorang ...
Artikel Kategori DongengSi Malin Kundang Jadi Batu
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah ...
Artikel Kategori DongengSi Buta dan Si Bungkuk
Di suatu kampung tinggallah dua orang pemuda sebaya. Mereka bersahabat akrab ...
Artikel Kategori PuisiPuisi untuk Para Koruptor
Dulu negeri ini makmur Dulu negeri ini sejahtera Entah kenapa,negeri ini perlahan runtuh Runtuh ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
6
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -