Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Dongeng > Defi dan Sepatu Kayunya
 
 

Kategori Dongeng

Defi dan Sepatu Kayunya

Penulis: Anonim | Diposting: 6 Juli 2010 | Komentar: 0 komentar

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Mau pasang iklan juga? klik disini
Dahulu kala di sebuah desa di Jawa, hiduplah seorang anak yatim piatu bernama Defi. Ia tinggal di rumah bibinya. Walau kaya, bibinya itu sangat kikir dan galak. Defi harus bekerja keras tanpa mendapat makanan dan pakaian yang cukup. Bahkan, Defi terpaksa harus memakai baju musim panasnya di saat musim dingin.

Menjelang Lebaran, hati Defi sangat sedih dan kesepian. Semua anak laki-laki seumurnya memakai topi bulu baru, jas hujan tebal, dan baju-baju hangat yang bagus. Sementara Defi hanya memakai sepasang kaos kaki berlubang dan sepasang sepatu yang tua. Teman-teman Defi juga bercerita tentang hadiah lebaran yang mereka terima.

Defi menceritakan semua itu pada bibinya. Namun, “Masih untung sepatu kayumu belum pecah. Kau juga harus bersyukur karena tidak ada paku di kaos kakimu!” komentar bibinya ketus. Defi menangis dalam hati mendengar jawaban itu. Ketika malam lebaran tiba, Defi pergi ke mesjid bersama temannya. Takbiran di malam lebaran yang dinyanyikan paduan suara terdengar sangat merdu di telinga Defi. Lampu-lampu di malam itu berwarna putih bergoyang karena tiupan angin. Bagaikan rombongan malaikat yang sedang menari, memuji nama Allah. Suasana mesjid sangat hangat dan menyenangkan. Untuk beberapa waktu Defi lupa akan kemiskinan dan kesedihan hatinya.

“Ah, andai aku bisa memberi hadiah pada seseorang di malam Lebaran ini…” pikir Defi saat mendengat takbiran. Sayang sekali ia tak punya apapun untuk diberikan pada orang lain. Akhirnya sholat lebaran pun selesai. Defi keluar dari mesjid. Di depan mesjid di berjalan mondar-mandir mencari akal. Setelah beberapa saat, ia lalu melangkah menyusuri jalan setapak mesjid.

Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil tergeletak di depan masjid itu. Wajah anak itu sangat pucat karena udara yang dingin. Defi melihat ke sekeliling. Kalau-kalau ada orang dewasa yang bisa dimintai pertolongan. Tetapi jalan itu sepi. Defi tak bisa membiarkan anak itu mati kedinginan.

“Apa yang harus kulakukan?” pikir Defi. “Mungkin Malaikat akan menolongnya bila kulepas sepatuku dan kuletakkan di dekat anak itu.” Defi lalu melepas sebuah sepatu kayunya. Dan meletakkannya di dekat anak kecil itu. Ia percaya pada cerita yang pernah didengarnya. Bahwa Malaikat akan datang dan memberi hadiah ke rumah anak yang baik di malam Lebaran. Defi lalu berlari pulang. Dalam perjalanan ia berpikir, hukuman apa yang akan diterimanya dari bibinya yang kejam.

Setibanya di rumah, Defi langsung kena marah. “Dimana sepatumu yang sebelah?” Defi menceritakan pengalamannya, lalu berkata, “Aku tidak bisa memberikan sesuatupun pada anak itu.” “Karena lancang, kau tidak akan mendapat makan malam!” bentak bibinya lagi. “Tapi sebelum tidur, letakkan sepatumu yang tinggal sebelah itu di dekat perapian. Malam nanti Malaikat akan mengisinya dengan paku dan jarum. Supaya kau jera!”

Tanpa membantah Defi melakukan perintah bibinya. Ia lalu masuk ke kamarnya yang sempit. Dan membaringkan tubuhnya di kasur yang dingin. Matanya sulit dipejamkan karena lapar dan sedih. Namun akhirnya ia tertidur juga. Defi tiba-tiba terbangun, ia tak tahu berapa lama ia tertidur. Dari arah dapur terdengar suara bibinya memanggil, membangunkannya. Aneh! Suara bibinya terngar ramah dan riang. Defi segera melompat dari tempat tidur dan bergegas ke dapur. Ooh! Ia hampir tak percaya. Di dekat tungku api, Defi melihat sepasang sepatu kayu yang masih baru. Di lantai di sekitar sepatu itu penuh dengan mainan bagus dan hadiah lain yang diimpikan setiap anak perempuan di dunia.

“Dari mana semua ini?” tanya Defi. Matanya terbelalak heran dan bahagia. Tiba-tiba, terdengarlah suara lirih dan merdu, “Akulah anak kecil yang kau tolong itu. Terimalah hadiah lebaran dariku, dan bersukacitalah!” Defi memandang ke sekeliling. Tak ada seorangpun yang terlihat. Maka tahulah Defi, malaikat telah datang dan berbicara padanya. Defi terkejut ketika bibinya memeluknya sambil meneteskan air mata.

“Mulai saat ini aku akan menyayangimu, Defi,” bisik bibinya. Defi pun berjanji akan menjadi anak yang baik. Akhirnya, Lebaran tahun itu menjadi Lebaran yang terindah bagi Defi dan bibinya. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Putu Wijaya
Foto Putu Wijaya
Beliau mempunyai nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori DongengDefi dan Sepatu Kayunya
Dahulu kala di sebuah desa di Jawa, hiduplah seorang anak yatim ...
Artikel Kategori DongengCindua Mato
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang ...
Artikel Kategori DongengCindelaras
Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang ...
Artikel Kategori DongengBawang Merah dan Bawang Putih
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri ...
Artikel Kategori DongengBatu Golog
Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
7
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -