Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Cerpen > Tari Getir Pinang
 
 

Kategori Cerpen

Tari Getir Pinang

Penulis: Yongki HS | Diposting: 29 Maret 2011 | Komentar: 0 komentar

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Sebatang pohon pinang ditiup bayu
Sebatang pohon pinang dibakar matahari
Sebatang pohon pinang hampir layu
Sebutir pinang ingin menyendiri

Seorang perempuan cantik, Rambu Ngana, lahir di sebuah desa bagian timur pulau Sumba, di suatu perkampungan kaum maramba, kampung itu bernama Rindi. Ia lahir beberapa minggu setelah neneknya meninggal. Perempuan itu kini tumbuh sebagai dara cantik yang melengkapi pesona eksotik kampungnya, sebuah perkampungan yang masih kental dengan adat budaya leluhur.

Kulitnya putih bersih diwarisi dari neneknya yang dipersunting oleh seorang saudagar hewan keturunan China. Bapaknya adalah buah kasih dari sang nenek dengan seorang kaum ata yang terlahir tanpa ikatan pernikahan. Sejak kecil bapak Rambu Ngana sudah terpisah dari ibunya. Maka tatkala sang nenek meninggal ia membawa pulang jasadnya untuk dimakamkan di kampung halaman. Ayah Rambu Ngana bernama Umbu Nggudu. Untuk melengkapi rasa hormat pada sang ibunda, Nggudu memberi nama anaknya sama seperti nama ibundanya, Rambu Ngana lengkap dengan nama baptisnya; Carolline. Ibu Ngana seorang perempuan bangsawan dari golongan maramba bokul.

Sebagai perempuan Sumba dari kasta maramba Rambu Ngana hidup di lingkungan yang sangat memanjakannya. Segala kebutuhannya dilayani oleh para wanita-wanita ata yang tinggal di rumahnya. Ia hanya boleh mengerjakan hal-hal yang biasa dikerjakan kaum bangsawan. Mengurus kebun dan memelihara hewan tak pernah ia kerjakan, paling-paling ia hanya menenun dan mempelajari syair-syair puja-puji untuk leluhur.

Semasa sekolah di Umalulu, Rambu Ngana menjadi siswa yang energik dan pandai. Segala kegiatan di sekolah diikuti penuh semangat, ia ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa embel-embel maramba. Di Umalulu Rambu Ngana dititipkan pada kerabat jauh, Ngguli. Di sinilah kesadaran agamanya tumbuh, ia juga menjadi remaja yang aktif dalam lingkup gereja. Sebagai anak semata wayang, ayahnya ingin kelak Ngana yang akan mewarisi kekayaan dan tanggung jawab terhadap leluhur.

Di luar sepengetahuan Ngana, ayahnya telah mengatur pertunangan dengan seorang lelaki maramba dari kaum bangsawan Lewapaku. Pertunangan itu disepakati setelah Ngana lulus SMP.

***

Suara ayah masih mengiang di telingaku: “Bapa sudah terima belis dari Umbu Landu Paranggi, seorang maramba dari Lewapaku. Kamu harus menikah bulan ini juga!” Betapa sakitnya hatiku menerima kenyataan ini, ayah diam-diam telah mengatur pertunanganku. Umbu Landu adalah kerabat jauh kami. Aku tahu ia telah memiliki dua istri. Dan aku akan dijadikan istri ketiga? Tidak, aku tidak terima ini.

“Nyummu pa-makiaya na kalembimu. Ku ba da keiya na wilimu!”1, kata ayah padaku.

“Saya masih mau sekolah”

“Sekolah nggara? Ini hasilnya kalau sekolah, sudah berani melawan orang tua!”

“Sekarang jamannya orang harus sekolah Ama”

“Nde a. Kita harus terima pertunangan ini!” Itulah kata terakhir ayahku.

Aku memang tak bisa lagi mengelak perjodohan itu. Ayah dan Umbu Landu telah menyelesaikan urusan adat. Pembatalan berarti sama dengan menciptakan permusuhan di antara mereka. Sebagai kaum perempuan aku merasa tak punya hak untuk menentukan nasibku sendiri. Hanya ada satu cara; aku harus lari.

***

Di perkampungan yang terletak di dataran tinggi itu, Umbu Nggudu mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia memiliki beratus-ratus hewan ternak, hinggi[2], mamuli[3], kanataru, lamba serta benda-benda berharga peninggalan kakeknya. Sang kakek hanya memiliki satu anak yaitu ibu Nggudu. Walau Nggudu hanyalah anak yang terlahir dari keturunan ata, harta kekayaan sang kakek jatuh padanya. Karena ibu Nggudu, Rambu Ngana dipersunting saudagar China, walau Rambu Ngana punya anak lagi dari perkawinan ini bernama Mei Lie, sang kakek tidak menganggap ia sebagai cucu. Perkelahian Sang kakek dan ibu Nggudu sebagai akibat ibu Nggudu menjadi pemeluk Nasrani dan menolak untuk memelihara tanggu marapu.

Dengan harta warisan kakeknya itulah Nggudu menjadi seorang maramba yang kaya dan dihormati. Demi mengukuhkan statusnya sebagai kaum maramba, maka diterimalah pinangan Umbu Landu untuk mempersunting Carroline Rambu Ngana.

Namun petaka terjadi, Ngana menolak pinangan itu dan pinangan itu tak bisa dibatalkan begitu saja, harus ada serangkaiam upacara adat untuk meminta maaf pada Umbu Landu. Nggudu terlanjur menerima ratusan ekor hewan ternak. Ada isu bahwa Nggudu sengaja menerima itu hanya untuk menambah kekayaannya. Malu, murka dan sakit hati karena isu itu, maka ia akan memaksa anaknya, Ngana untuk memenuhi pinangan itu.

Sore itu tiba-tiba hujan sangat lebat.

Esok adalah hari yang telah ditentukan untuk memboyong Ngana ke Lewapaku, sebagai istri ketiga Umbu Landu Paranggi. Rombongan yera sudah berada di Rindi, ketika itu. Pesta perjamuan diadakan untuk menyambut tamu dan para kerabat.

Hujan semakin lebat.

Di tengah acara perjamuan, mendadak dikejutkan oleh berita menghilangnya Rambu Ngana. Nggudu segera memerintahkan orang-orang dalam untuk mencari Ngana. Namun Ngana tak ditemukan, malam itu juga Nggudu, Landu, Ngguli dan seluruh kerabat laki-laki mengejar Ngana ke empat penjuru.

***

Sudah berjam-jam aku memacu Kanuhu, kuda kesayangan ayah. Malam begitu gelap dan hujan membuat aku tak tahu kemana Kanuhu membawaku lari. Aku tak perduli kemana arah kudaku, aku hanya ingin berlari dan terus berlari. Roh Leluhur mungkin sedang menutunku, aneh, malam yang terang penuh bintang itu tiba-tiba berubah pekat oleh hujan. Atau mungkin justru Para Leluhur sedang melindungiku agar orang-orang tak bisa mengejarku.

Kanuhu sudah kelelahan, begitu juga aku. Hujan belum juga reda. Di kejahuan nampak samar-samar nyala lentera. Coba kuarahkan kudaku ke tempat lentera itu. Aku sudah sangat lelah, ketika orang itu menyapaku.

“Mari kutunjukkan suatu tempat bagimu”. Sinar lentera itu ternyata berasal dari tangan lelaki yang menyapaku ini. Aku tak tahu apa yang diucapkan, namun aku mengikuti isyaratnya untuk mengikuti langkahnya. Ia membawaku pada sebuah bangunan gedek. Bangunan itu hanya berbentuk segi empat, ada beberapa bangku panjang yang dijajar dua-dua. Di dinding bagian belakang ada tanda salib dari kayu yang dicat warna merah.

“Lepaskan kudamu, sebentar lagi akan ada badai dasyat. Hewan-hewan itu akan akan mati semuanya. Sebuah wabah aneh akan melanda”.

Aku turun dan kulepaskan Kanuhu. Lelaki itu mengajakku masuk ke bangunan gedek. Baru aku bisa melihat wajahnya, matanya sipit, rambutnya klimis. Walau tadi ia berjalan di tengah hujan, ternyata bajunya tidak basah oleh hujan.

“Duduklah orang-orang tidak akan menangkapmu”.

Belum sepatah kata kuucapkan kepadanya, dari mana ia tahu aku sedang dikejar-kejar oleh orang suruhan ayahku? Keadaanku yang terdesak membuat aku lupa mencari jawabannya.

Di luar angin semakin kencang, tidak ada cahaya diluar sana kecuali sorot lentera yang dibawa oleh lelaki tadi, yang kini diletakan di tengah ruang. Tanah tempatku berdiri tiba-tiba bergerak, kepalaku pusing. Keadaan ini berlangsung beberapa menit. Ketakutan mulai menyelimutiku, gempa dahsyat telah terjadi. Suara gemuruh angin bertimpalan dengan suara pohon-pohon tumbang. Disamping tempatku berdiri ada suara gemuruh bangunan runtuh. Aku tak tahu harus berbuat apa, lelaki tadi hanya duduk berlutut memeluk sebuah buku sambil komat-kamit memanjatkan doa.

Di tengah suara gemuruh angin dan gempa, ada suara tangis anak kecil mensayat-sayat hati. Lelaki tadi dengan segera melongok keluar dan memanggil sebuah nama; “Shien Hwe.........!”

Kemudian ia segera keluar membawa lentera dan berpesan kepadaku, “Tetaplah di sini, ini bencana bukan datang untukmu”. Aku tak mengerti apa maksudnya. Ketika ia membawa keluar lentera, aku melihat pohon-pohon tumbang, hewan-hewan mati, termasuk Kanuhuku. Gemuruh dari samping tadi ternyata sebuah bangunan tembok yang runtuh. Dari sana, babah-babah dan nona-nona kecil berlarian berhamburan menuju bangunan tempatku berdiri. Bangunan itu runtuh tinggal puing-puing hanya sebuah papan nama di dekat pagar duri yang masih berdiri tegak. Di papan nama itu tertulis; Chunghwa Shesio. Kucoba menanyakan sesuatu pada mereka, namun sepertinya mereka tak melihatku.

Lelaki tadi kembali lagi, berlarian sambil menggendong perempuan kecil. Di belakangnya seorang wanita mengikuti dengan tergopoh-gopoh. Babah-babah dan nona-nona kecil berteriak memeluknya, “Ho She... Ho She....!”

Bau amis hewan-hewan yang meninggal mulai menyengat. Aku berpikir, inikah kutuk yang menimpa diriku karena aku berlari dari kesepakatan adat. Di luar mulai terdengar suara ramai derap kuda dan orang-orang berteriak. Jangan-jangan mereka orang yang mengejarku. Ingin kutanyakan sesuatu pada lelaki yang tak basah oleh hujan ini yang ternyata bernama Ho. Sepertinya ia mengerti perasaanku.

“Tenanglah, ini petaka bukan mengejarmu. Ini anakku Shien Hwe dan ini istriku, namanya tertera di mamuli yang kau kenakan”, ia mengatakan itu lalu keluar kembali tanpa lentera. Ruangan dalam bangunan gedek kembali terang oleh sinar lentera. Aneh, mereka malah menyanyikan kidung-kidung pujian.

Lelaki itu ternyata bernama Ho. Nampak sekali ia sangat dihormati oleh anak-anak kecil itu. Istri Ho berada di tengah-tengah mereka memimpin anak-anak menaikkan kidung-kidung pujian. Menurut Ho nama wanita itu tertera di mamuli yang kukenakan. Kugenggam mamuliku, nama yang ada di mamuli ini adalah namaku sendiri. Ayah yang telah memberikan ini padaku. Menurut ayah namaku diambil dari nama Apu.

Istri Ho juga mengenakan mamuli yang sama. Adakah ia adalah Apu? Kalau ia masih hidup tentulah sudah sangat tua. Tapi wanita ini masih muda dan cantik. Tahun berapakah ini? Di manakah ini sebenarnya? Mengapa mereka tak melihat keberadaannku?

Di luar hujan lebat masih mengirim hawa dingin hingga ke dalam ruang. Aku menggigil oleh ketakutanku. Kutatap istri Ho, anaknya bersimpuh dipangkuannya. Sepertinya aku tengah mengamati diriku sendiri. Kalau memang ia adalah Apu. Lalu siapakah nona kecil bernama Sien Hwe ini? Apakah ia saudara tiri ayah?

Apu pernah dikutuk oleh eyang karena ia meninggalkan kepercayaan leluhur. Inikah kutuk itu? Tanah kembali bergetar kencang, gempa semakin dahsyat. Banyak lubang kepiting di lantai ruang dari tanah ini. Guncangan gempa membuat air dalam lubang kepiting mengeluarkan air mula-mula warna coklat, pekat, kemudian berwarna merah darah. Aku semakin panik. Di luar suara-suara orang ketakutan semakin nyaring terdengar. Aku tak berani untuk berlari ke luar, keadaan terlalu gelap dan mencekam. Bunyi guntur berkali-kali menggelegar disertai sambaran kilat. Sementara anak-anak di dalam ruang ini semakin keras mereka menaikkan kidung pujian.

Dari luar ruang ada suara derap kuda dan kerumunan orang. Ho membawa beberapa warga masuk dalam ruangan. Aku menepi ke sudut ruang, jangan sampai mereka adalah utusan ayah untuk mencariku. Ternyata mereka adalah sekumpulan orang yang ketakutan. Rupanya Ho tengah mengumpulkan warga untuk berlindung di ruang ini. Semakin khusuk mereka menaikkan kidung-kidung pujian, mereka berlutut dalam linangan air mata.

Ho kembali menghampiriku. Aku semakin takut berada dalam situasi ini. Mengapa hanya dia yang melihat kehadiranku?

“Carroline”, katanya. Ternyata ia tahu nama depanku itu. Kuberanikan diri bertanya sesuatu padanya.

“Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ini kutukan yang bakal menimpaku?”

“Ini hanyalah sebuah peristiwa alam yang dikirim Tuhan untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhan”

“Siapa anda sebenarnya dan siapa dua perempuan itu?” kutunjuk istri dan anaknya.

“Mereka berdua?” Ho tersenyum lalu melanjutkan,

“Ia Carroline nenekmu, dan perempuan kecil itu adalah anakku, kelak ia akan menjadi bagian dari dirimu”

“Apa maksud anda?”, tanyaku.

“Waktuku semakin dekat, simpanlah mamuli pemberianku ini!” Rupanya ketika panik saat gempa, mamuli terjatuh. Ho mengembalikan padaku, tapi mengapa ia katakan itu sebagai pemberiannya?

Gempa sudah reda, Ho kembali menuju keluar. Kuikuti ia hingga ke pintu, ia masih menoleh dan tersenyum padaku. Aku kembali menoleh ke dalam ruang. Mereka masih menaikkan kidung-kidung pujian. Aku kian terlelap dalam kebingunganku, tahun berapakah ini? Mengapa aku berada di sini?

Hari hampir pagi. Sebersit sinar matahari mulai nampak di kaki langit. Sekumpulan orang mengusung mayat dalam tandu bambu. Mayat di taruh di tengah ruangan, tangis duka segera meledak. Mereka menangisi, mayat dalam tandu. Aku mendekat, kulihat mayat Ho terbujur kaku, seluruh tubuhnya hitam legam.

Kepada siapa lagi aku akan bertanya, hanya Ho yang bisa merasakan kehadiranku. Aku yakin, pastilah ini hanya sebuah mimpi.

***

Malam baru saja menyimpan sebuah misteri di balik perjalanan bintang. Matahari menggantikan cahaya bulan dan bintang dari sudut awal kehidupan, tapi tak pernah mampu menguak misteri yang tersisa dari selimut malam.

Perempuan muda itu terlelap di teras sebuah geraja tua. Ia baru saja melewati malam-malamnya yang penuh penderitaan. Ia berlari dari sebuah perjodohan yang tak di kehendakinya. Jika ia telah terjaga dari misteri malam, maka akan didapati dirinya berada dalam sebuah misteri yang jauh lebih panjang, yaitu kehidupan ini.

***

Lonceng gereja berdentang beberapa kali, mengagetkanku dari sebuah mimpi. Rupanya aku baru saja tertidur dengan mimpi panjang. Kulihat orang-orang berpakaian rapi menuju gereja. Aku teringat, ini hari minggu, hari perjodohanku. Aku akan diboyong Landu ke Lewapaku. Tidak, aku tak mau. Aku akan terus berlari dari kenyataan ini.

Kutelusuri jalan-jalanku, tanpa aku tahu kemana tujuanku. Hingga matahari semakin tinggi aku masih terus berjalan dan berjalan. Panas begitu terik, bau tanah akibat hujan semalam terasa lekat di jiwaku. Hujan apakah semalam? Itukah kutuk yang akan menimpaku? Maafkan aku Ama-Ina, aku tak bisa menerima perjodohan ini.

Aku istirahat di bawah sebuah pohon pinang. Angin meniup daun dan melambai-lambaikan dalam gerakan yang gemulai. Sebuah truk berhenti di depanku, aku menumpang truk itu menuju ke kota. Aku duduk di bagian belakang bercampur dengan berkarung-karung buah pinang yang hendak di kirim ke kota. Andai aku sebatang pinang, ingin aku menari-nari bersama tiupan angin. Jangan kau petik buahku atau kau potong tubuhku karena aku masih ingin memainkan kabogang, hingga tubuhku tinggi menjulang. Aku ingin menyendiri, tanpa ata, hinggi dan lau.

Sebatang pohon pinang ditiup bayu
Sebatang pohon pinang dibakar matahari
Sebatang pohon pinang hampir layu
Sebutir pinang ingin menyendiri

Waingapu, 2008 (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Andrie Wongso
Foto Andrie Wongso
Andrie Wongso sering disebut sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia. Selain menjadi seorang motivator handal, Andrie Wongso juga dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori CerpenTari Getir Pinang
Sebatang pohon pinang ditiup bayu Sebatang pohon pinang dibakar matahari Sebatang pohon pinang ...
Artikel Kategori CerpenTamu Yang Datang Menjelang Lebaran
Malam itu, di kamar mereka, Arman menunggui istrinya dengan pandangan bertanya. ...
Artikel Kategori CerpenSuara Seorang Kakak
Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan ...
Artikel Kategori CerpenSketsa di Ufuk Jingga
Segalanya tampak begitu putih, setidaknya pemandangan itulah yang menyapa iris mataku. ...
Artikel Kategori CerpenSimpang Ajal
SELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal bunuh diri. Bunuh ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
7
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -