Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Cerpen > Sepenggal kisah dari Ponggatan
 
 

Kategori Cerpen

Sepenggal kisah dari Ponggatan

Penulis: Anonim | Diposting: 14 April 2011 | Komentar: 0 komentar

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Bang Jaka. Sebut saja namanya begitu. Entah apa kepanjangannya, atau nama aslinya. Pokoknya Jaka saja. Titik. Habis perkara. Siang itu cuaca yang sangat menyengat di ubun-ubun kepala terasa sangat menggerahkan kota Ponggatan, sebuah kota modern yang hanya ada di negeri dongeng.

Tertata rapi. Bersih. Sebagian besar manusia di dalamnya memilih untuk tetap tinggal di ruang ber-AC yang nyaman dalam gedung-gedung tinggi pencakar langit. Dingin dan kaku. Namun lelaki kurus legam yang bernama Jaka ini tampak tidak terlalu terganggu dengan teriknya matahari. Matanya tetap awas memandangi parkiran di depan gedung biru. Dia tidak mencari seseorang, namun mencari banyak orang yang akan dipilihnya satu orang secara acak. Definisi pencarian yang aneh memang…

Bang Jaka dan kawan-kawan melakukan pencarian ini tanpa pernah mengenal teori probabilitas atau semacamnya. Dan probabilitas siang itu bang Jaka jatuhkan pada seorang lelaki muda berpakaian biru yang baru saja berjalan keluar dari gedung biru. Mungkin alasan pemilihan bang Jaka kali ini adalah karena biru di atas biru tampak serasi, haha.

Bang Jaka berprofesi sebagai tukang ojeg. Motornya melaju rapi di jalanan yang terik, dengan lelaki berbaju biru duduk di belakangnya. Tiba-tiba saja bang Jaka mengajak penumpangnya bicara, “Manusia hilir mudik itu penuh rahasia ya, mas. Tapi saya heran, ko saya yang tidak pernah shalat bisa sering ketemu orang-orang baik…”. Lelaki berbaju biru dibelakangnya tidak paham dengan baik apa yang bang Jaka bicarakan.

Maka lelaki ini hanya berujar pendek, “Oh…”. Bang Jaka tidak peduli, dia melanjutkan ceritanya bahwa profesi ini baru dijalaninya selama 2 bulan terakhir. Sebelumnya, dia adalah tangan kanan seorang ‘bos baik hati’ pemilik pabrik boneka terbesar di negeri dongeng. Namun belakangan dia mulai resah dengan kebiasaan ‘bos baik hati’ ini yang sering minum-minum dan bolak-balik membawa wanita ke kediaman pribadinya. Sebagai tangan kanan, salah satu tanggung jawabnya adalah mengantar boneka-boneka cantik ini hingga ke hadapan ‘bos baik hati’ yang mungkin tidak pernah puas dengan ribuan boneka yang diproduksi sendiri dengan label ‘made in Italy’ yang dikeluarkan pabriknya setiap hari. Mulanya bang Jaka jalani ini dengan ketaatan penuh. Toh bukan aku yang berbuat dosa, pikirnya. Hingga suatu hari…tiba-tiba saja, dia memutuskan keluar. Sang ‘bos baik hati’ tentu kaget. Lebih kaget dibandingkan ketika melihat boneka cantik dari india yang pernah diantarkan bang Jaka. “Kamu sudah saya anggap anak sendiri. Apakah saya pernah mengabaikan hak-mu?” Bang Jaka tidak bisa menjawab. Bahkan dia tak bergeming ketika ditawarkan kenaikan gaji dan fasilitas.

Pengunduran diri berarti tanpa pesangon. Tapi bang Jaka tak peduli. Hari itu dia hanya ingin berhenti. Semua cerita itu kini terlupa. Bang Jaka sudah mulai terbiasa mangkal di depan gedung biru mengincar calon penumpang yang bisa dia antarkan hingga ke tujuan. Selain penumpangnya berpakaian macam-macam seperti baju boneka yang biasa dia lihat dulu di pabrik, karakter penumpang pun beragam. Ada yang dingin. Ada yang memberikan kelebihan kembaliannya. Ada yang pelit hingga menagih gopek-an terakhir yang tak ada. Ada yang cerewet. Dan lain sebagainya.

Siang ini adalah kamis di bulan rajab. Dan bang Jaka sedang belajar puasa. “…biar tidak bolong-bolong lagi nanti ketika ramadhan, membayar yang lalu…” ujarnya kalem ketika diledek teman-teman sesama tukang ojeg. Bang Jaka pun mulai belajar shalat. Belum 5 waktu, tapi sedikit demi sedikit mulai teratur. Bang Jaka terus melaju dengan motor dan cerita yang ditelan bisingnya deru jalanan. Bang Jaka tidak peduli ceritanya itu ada yang mendengar atau tidak. Dia melanjutkan perkataanya yang seolah ditujukan pada dirinya sendiri. “Iya, saya ini banyak dosa. Saya tidak tahu apakah orang yang selalu saya antar pergi dan pulang itu membayar dengan uang halal atau uang haram. Saya cuma ingin Allah mengampuni saya yang pernah salah tempat kerja”, ucap bang Jaka. Tercekat. Dia mengucapkan itu dengan sepenuh hatinya. Sang lelaki penumpang tentu saja tidak mendengar apa yang bang Jaka ucapkan. “Berhenti di depan ya, bang”, ujar si lelaki berbaju biru. Bang Jaka melambatkan laju motornya dan berhenti. “Ok, tidak usah bayar ya”, bang Jaka langsung menjalankan motornya. “Lho? Sebentar bang ini ada ko uangnya”, seru panik si lelaki sambil merogoh saku celananya. Motor berhenti sebentar, “Ini bulan Rajab. Saya mau sedekah, sekali saja setiap hari. Itu janji saya. Ok, saya pamit”. Motor bang Jaka pun menghilang. Si lelaki berbaju biru ternganga depan rumahnya. Bingung harus berbuat apa…

- Untuk bang Jaka yang sebenarnya.. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Andrie Wongso
Foto Andrie Wongso
Andrie Wongso sering disebut sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia. Selain menjadi seorang motivator handal, Andrie Wongso juga dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori CerpenSepenggal kisah dari Ponggatan
Bang Jaka. Sebut saja namanya begitu. Entah apa kepanjangannya, atau nama ...
Artikel Kategori CerpenSemangkuk Mie Kuah
Ny. Hsu yang tinggal di Kao Hsiung, anak gadisnya pulang dari ...
Artikel Kategori CerpenSemangkuk Bakmi Panas
Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana ...
Artikel Kategori CerpenSelembar Tiket Kereta
Semenjak kecil, saya takut untuk memperingati hari ibu karena tak berapa ...
Artikel Kategori CerpenSebuah Penyesalan
"Aku kecewa.." kata terakhir yang aku dengar dari bibirnya ketika ia ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
6
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -