| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenSebuah PenyesalanPenulis: Fita Berliana | Diposting: 29 Juli 2008 | Komentar: 0 komentarDan setelah saat itu aku tak pernah melihat sosoknya lagi. Dan akupun tak pernah berusaha untuk menghubunginya ataupun mencarinya. Entah mengapa semua terasa aneh bagiku ketika kejujuranku di anggap sebagai suatu kesalahan yang besar. Tapi sungguh, semuanya sudah berubah dan mungkin aku mulai belajar mencintainya. hanya saja aku merasa terlalu egois untuk memintanya kembali mengisi hari-hariku. Dan kini, setelah tujuh tahun lamanya dan aku belum juga menemukan tempat untuk berlabuh, belum juga menemukan tempat yang paling nyaman untuk berbagi selayak dirinya. Ada rasa sepi yang hinggap dalam setiap sudut waktu yang aku lewati. Tiba-tiba saja semuanya terasa berputar kembali. Aku tak tau angin apa yang membawa namanya dalam pikiranku padahal aku sudah lama tak mencoba mengingatnya, melupakan semuanya. Aku melihatnya pertama kali ketika ia duduk jongkok di pinggir trotoar bersama beberapa anak jalanan. Ada perasaan salut saat itu. Ada sesuatu yang berbeda, sosok dirinya yang berpakaian rapi dengan kerudung menutupi kepala dan dadanya sementara ia dikelilingi anak-anak yang (maaf), agak kotor dan kumuh membuatnya terlihat sedikit aneh. "Berani benar.." gumamku dan aku pun tak mampu menahan diri untuk tidak bergabung dengan mereka. "Panggil saja Lin" jawabnya singkat ketika aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Ini Ica, Ian, Esa, Putra.., dan itu Bebi. Nah, yang paling cantik ini namanya Lika.." ia memperkenalkan mereka satu persatu, sambil memeluk dan terus membelai si kecil yang katanya bernama Lika. "Hi, aku Rona.. Boleh main sama temen-temen kan?" sapa ku ramah. ****** Dan hari itu ia marah padaku. "Kau membohongiku.." ucapnya lemah. Air matanya mengalir deras. Dan seperti biasa, aku diam membisu. Entah apa yang ada dalam pikirkanku, aku tak merasakan apa-apa. Tak ada sedikitpun rasa bersalah, padahal aku benar-benar telah membohonginya. Hingga suatu hari aku tersadar, bahwa aku tidak sedikitpun pernah mencintainya. Aku hanya simpati, terpesona, tertarik, atau entah apa namanya. ".......sungguh tidak adil jika kau melampiaskan kemarahanmu, kekecewaanmu, padaku.. aku tak pernah melakukan kesalahan yang membuatmu terluka. dan aku tak ada sangkut pautnya dengan dia. Dia bukan siapa-siapa bagiku. yang membuat kami sama hanyalah kami perempuan, itu saja! Dan kau. Kau tak berhak sedikitpun menyakitiku hanya untuk melampiaskan dendammu.. Kau tak berhak merebut kebahagiaanku hanya untuk membuat dirimu merasa puas telah membalas penghianatannya atas dirimu. sungguh, kau tidak berhak melakukan itu !!" teriaknya. "......kini kau benar-benar melukaiku, membuatku merasakan sakit yang paling sakitnya...." gumamnya lemah dan ia tenggelam dalam tangis. Kata-kata itu begitu tajamnya menikamku. Ingin rasanya memeluk tubuh ringkihnya, membelainya dan meminta maaf atas semua yang aku lakukan. Tapi, ego menahanku. Ada satu sudut dalam hatiku yang berteriak mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah benar dan tak perlu mengasihaninya apalagi meminta maaf padanya. Dan hari ini semua berjalan seperti yang aku inginkan, wawancara dengan anggota dewan, presentasi dan sebagainya. Aku merasa amat lelah. Aku coba keluar untuk berjalan-jalan sejenak menikmati suasana sore kota Jogja. tiba-tiba saja aku ingin ke Stasiun Tugu. Aku parkir kendaraanku di tempat biasa. hei! Tujuh tahun yang lalu aku juga parkir di tempat ini, dan ingat betapa ia malu saat akan ku antar pulang sebab ia sama sekali tak paham jalan menuju rumahnya sendiri kecuali di antar oleh sopir taxi... hmmm.. Kami melewati saat-saat terindah. Berjalan sepanjang rel kreta sambil bercerita banyak hal. Mengejar kreta yang mau brangkat atau berlarian dari satu gerbong ke gerbong lain. sungguh semua terasa indah... Berpose bersama "anak-anak kami" (saat itu kami menyebut anak-anak jalanan sebagai "anak kami") adalah hal yang paling ia sukai. Aku selalu memanggilnya "manusia 20 juta", dan sesaat ia akan cemberut lalu tersenyum manis... Hei, mengapa aku selalu mengingat-ingatnya kembali? ada apa denganku? ********* Aku terlongo. dia kah itu? aku mengucek-ucek kembali mataku? Lin kah itu? Seorang perempuan setengah baya berjalan sambil menggandeng anak perempuan yang kira-kira berusia 4 tahun. anak itu begitu mirip dengan Lin.. matanya, hidungnya, alisnya..hanya bibirnya yang lebih tipis sedikit. Tuhan, ada apa denganku? mungkin aku salah, mungkin karena aku terlalu memikirkannya.!! Aku memeluknya erat. Inilah Lin kecilku..tempat aku akan menambatkan hatiku selama-lamanya...putriku, anak ku... Aku menangis sejadi-jadinya. Ada penyesalan yang luar biasa menyeruak dalam hatiku. Lin.. sungguh, aku benar-benar menyesal dan merindukanmu.. maafkan aku.. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Aesop
![]() Aesop dikenal karena cerita-cerita fabel yang dianggap berasal dari dia. Berbagai macam kumpulan fabel dari Aesop masih diajarkan sebagai pendidikan moral dan digunakan sebagai subyek dari berbagai macam hiburan, khususnya dalam ... |
||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||