| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenRasa Malu Sang PrajuritPenulis: Anonim | Diposting: 15 November 2010 | Komentar: 0 komentarPetani tua tak berdaya. Tapi sempat bertanya. Apakah Anda tak punya air, wahai prajurit? Tidak. Airku sudah habis sejak dua hari yang lalu. Tapi Anda masih punya rasa malu, bukan? tanya petani itu lagi. Apa maksudmu? Sang prajurit keheranan, hingga tak jadi mengangkat kendi ke bibirnya. Rasa malu telah merebut seteguk air dari seorang petani tua yang lemah tak berdaya. Padahal Anda masih punya kuda dan kekuatan untuk mencari sumber air yang isinya lebih dari isi kendi ini. Prajurit terhenyak. Meminta maaf sambil menyerahkan kembali kendi yang cuma berisi setetes air itu kepada petani tua. Rasa malu telah menghadangnya dari berbuat zalim. Oleh Alexander, pengalaman prajurit itu ditorehkan dalam sebuah prasasti yang di Kota Epheseus (wilayah Turki sekarang), berbunyi, “Memiliki rasa malu adalah bukti keperwiraan para prajurit. Para perwira yang tak punya rasa malu, nilai pangkatnya lebih rendah dari para prajurit”. Nabi Muhammad saw. menegaskan, malu sebagian dari iman. Al haya-u misful iman. Tegasnya, orang yang tak malu, imannya tak utuh lagi. Sedangkan filsuf ahli ilmu jiwa perkembangan termasyhur abad ke-9, Ibnu Tufail, menyatakan, rasa malu menyertai kodrat manusia. Manusia yang tak punya rasa malu kehilangan kodratnya sebagai manusia. Tapi zaman sekarang, rasa malu sudah lenyap sama sekali. Dalam kata lain, banyak manusia sudah kehilangan nilai keperwiraan seperti kata Alexander The Great. Kehilangan sebagian iman, menurut rumusan Rasulullah saw. Kehilangan kodrat manusia ” sehingga turun ke taraf binatang” sebagaimana pendapat Ibnu Tufail, penulis novel psikologi Hayy bin Yaqzan yang amat populer di dunia Barat itu. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Kak Rico
![]() Keinginan untuk menjadi Pendongeng sama sekali tidak pernah sedikit pun terpikirkan oleh pria kelahiran Jakarta berdarah Padang, Ambon, dan Manado ini. Kak Rico lebih senang berkecimpung dalam dunia Teater, Musik, dan ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||