| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenPerpisahan Ini Bukan KeinginankuPenulis: Anonim | Diposting: 8 Agustus 2011 | Komentar: 0 komentarHanya demi membahagiakan orangtua dia harus menikah dengan Randy sebelum detik-detik terakhir kematian Ibunya di RS kemarin dengan pernikahan yang sangat sederhana disaksikan Ibunya dan disaksikan Marco pacarnya yang sudah dipacarinya 10 tahun lebih sejak masih SMP. So sad.. Menjalani hal yang bukan keinginannya.. Terpaksa.. “Rianty, tolonglah nak menikah sama Randy… Biar kamu lihat Ibumu senang..” Pinta Ibunya memelas. Oh, tidak Tuhan kenapa ini harus terjadi… Aku mencintai Marco tapi disamping itu aku juga mencintai Ibuku. Pikir Rianty sambil terus memeluk dan menangisi jasad Ibunya. Randy hanya menepuk2 pundak Rianty. “Sabar sayang…” Ucap Randy. Rianty memandang kesal pada Randy. Sesampai di pemakaman dia sudah tidak melihat lagi Ibunya yang dilihatnya hanyalah seonggok tanah merah. Rianty menahan airmata ketika dilihatnya Marco mendekati makam. “Aku turut berdukacita, sayang” Kata Marco.. “Aduh, aku kok bodoh gini ya? Aku khan bukan sayang kamu lagi. JUstru kamu udah sayangnya orang lain.” Marco tersenyum pesimis sambil gelen-geleng kepala terlihat kesuntukan dan kelelahan di wajahnya kayaknya dia satu malaman ini menangis. “Maaf.. Kamu harus tau aku itu sangat mencintai kamu. Mungkin itu untuk seumur hidupku.. Tapi perpisahan ini bukan kemauan aku.” Rianty mencoba tegar mengatakannya disampingnya ada Randy. “Co, maafin saya ya.” Ucap Randy. “It’s ok. Tapi bisa gak kamu ijinkan aku untuk memeluk istri kamu ini. Sekali aja.” Pinta Marco. Rianty begitu terkejut, apalagi Randy. Dipandangi Randy terus wajah Rianty yang tertunduk bingung campur sedih. Akhirnya Randy manjawab. “Boleh Dalam hitungan detik Marco memeluk Rianty sambil menangis sejadi-jadinya. Rianty makin ikut menangis. “Ri, aku gak nyangka Tuhan setega ini memberi cobaan sama kita. Gimana mungkin aku terpaksa harus terbiasa tanpa kamu…. Gak bisa ri…” Kata Marco bergetar.. “Aku juga gak bisa. Tapi aku juga gak terbiasa untuk menghianati orang apalagi itu orang yang aku sayang. Ibu.” Tangis Rianty sambil menjauh dari Marco. “Aku tau… Aku tau tanpa kamu bilang juga aku tau. Lebih dari 10 tahun kita hidup tanpa penghianatan sama sekali. Walaupun pada akhirnya kita harus terpecundangi keadaan.” Marco sedikit mendekati Randy. “Jaga dia Ran. Jangan coba2 hianati dia. Aku punya hak untuk membunuh kamu jika hal itu terjadi.” Kata Marco sinis dan berjalan mundur untuk pergi tapi di tahan Rianty.. “Marco… Ini bukan keinginan aku.. Ingat selalu ya kalo aku ini sayang sama kamu. Pokoknya aku gak pernah bermimpi akan perpisahaan ini. Karena aku cinta mati sama kamu!!!!” Jerit Rianty sepuasnya. “Iya. Aku yakin cinta kamu gak kalah tulusnya dari cinta aku. Suatu saat dikehidupan kedua kita bakal mencintai lagi. Yakinlah itu…. Aku bahagia jika kamu bahagia, aku akan sakit jika kamu bersedih. Jadi tolong bahagialah kamu atas kehidupan kamu sekarang supaya aku bahagia juga. Sayang!” Kata Marco pelan dan pergi dengan serpihan cintanya. Rianty menjatuhkan diri ketanah. Matanya menerawang kosong ntah kemana, disekanya sisa-sisa airmatanya, dia mencoba dewasa menghadapi kehidupan yang tak pernah dicita-citakannya. Walau dia harus berlabuh ke cinta yang penuh tanda tanya dan meninggalkan cinta yang sudah benar-benar tulus adanya. Dia hidup seperti boneka mengikuti alur cerita orang lain bukan keinginannya. “Rianty..” Panggil Randy lemah. Rianty memandangi Randy. Bisakah dia bahagia hidup bersama orang yang tidak dia cintai? Bisakah sosok Randy menggantikan Marco, Aku harap tidak akan. Tapi yang dia harap semoga dia bisa tulus menjalani ini sampai ajal menjemput dan Rianti sama Marco bertemu dikehidupan kedua. “RIANTY…” Panggil Randy lagi membuyarkan angan-angan Rianty, “Iya…” Rianty terbata sambil dia berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya. “Ayo pulang sa…sa…sayang” Katanya pelan membuat Randy tersenyum bahagia. Mereka berjalan meninggalkan pekuburan itu. “Selamat jalan bu. Trimakasih atas perbuatanmu ini. Membuat aku lebih tegar dan dewasa dalam menghadapi ssemua. Tapi satu yang harus Ibu tau, maaf jika dikehidupan kedua aku tidak lagi bersama orang pilihan Ibu. Ku harap Ibu terima keputusanku suatu saat. I love you bu…. “Kata Rianty dalam hati sambil tersenyum kecut dan sedikit menoleh kearah makam ibunya.. Huft……. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Andrie Wongso
![]() Andrie Wongso sering disebut sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia. Selain menjadi seorang motivator handal, Andrie Wongso juga dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||