| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenMendengarkan HujanPenulis: Anonim | Diposting: 05 Mei 2009 | Komentar: 0 komentaraku memejamkan mata mendengarkan suara yang ia bawa sejak dari langit bahwa ia akan turun setiap tiba gilirannya turun untuk memperdengarkan suara kejatuhan-kejatuhan itu … *** Okelah, teman. Saya akui mungkin puisi yang saya tulis di atas memang tidak cukup bagus untuk bisa mewakilkan semua yang ingin saya sampaikan kepada anda, tentang makna mendalam yang dapat kita petik dari sebuah peristiwa alam bernama hujan. Bahkan mungkin, jika seorang sastrawan menilai, puisi di atas mungkin saja belum bisa disebut puisi. Saya tidak terlalu peduli akan hal itu karena memang saya tidak sedang berusaha meyakinkan anda bahwa saya bisa membuat puisi. Saya hanya ingin mengajak anda untuk mengambil pelajaran dari jatuhnya butir-butir air dari langit tersebut. Hujan memang puitik. Kedatangannya kadang sangat diharapkan orang, karena ia bisa berarti kesuburan, kesegaran, kesejukan dan kehidupan. Namun hujan juga kerap dirutuki orang, karena kehadirannya juga bisa berarti halangan, ketidaknyamanan, kedinginan, kerusakan, bahkan bencana dan kehancuran. Namun di atas semua itu, pernahkan hujan benar-benar bisa dihentikan? Apapun pendapat orang tentangnya, bagaimana pun pengaruh yang akan ia beri dengan kedatangannya, ketika tiba saatnya datang, hujan tetap akan datang. Tak peduli orang senang atau tidak. Tak peduli orang sudah mempersiapkan payung atau belum. Tak peduli kedatangannya diharapkan atau sebaliknya diharapkan tidak datang, ketika ia hendak turun hujan akan tetap turun. Dari dulu begitulah hujan. Orang sudah mengenalnya sebagai gejala alam yang lumrah terjadi. Untuk mengatasinya manusia sudah menciptakan berbagai macam cara. Karenanya juga maka manusia membuat atap rumah sedemikian rupa, bentuknya lancip seperti segitiga, dimaksudnya agar ketika hujan air dengan mudah turun ke selokan. Payung, jas hujan, mantel, dan sebagainya adalah karya manusia yang tercipta karena pengetahuan bahwa suatu waktu akan terjadi saat-saatnya hujan turun. Dalam pembagian musim, hujan mendapatkan gilirannya sendiri. Ia akan menepati janjinya untuk datang, ketika gilirannya telah tiba. Semua manusia mengenal karakter hujan seperti itu. Semua manusia pernah menemui hujan. Dan semua manusia sudah sangat paham bahwa hujan satu waktu akan turun. Tapi coba lihatlah bagaimana begitu banyak manusia yang tidak siap menghadapi hujan. Ada begitu banyak manusia yang tidak terpikirkan untuk memiliki payung di rumah mereka, meskipun mereka tahu suatu saat mereka akan sangat membutuhkannya. Baru ketika hujan benar-benar turun mereka menyesal, selama ini tidak benar-benar merasa penting memiliki payung. Ada begitu banyak manusia yang tidak segera tergerak untuk membersihkan sampah-sampah di selokan, walaupun mereka sadar suatu saat jika hujan turun hal itu bisa menyebakan banjir. Baru ketika air hujan benar-benar menggenangi rumah mereka, berbagai rutukan keluar dari mulut mereka. Padahal mereka sebenar-benarnya telah paham, dari dulu begituah tabiat hujan. Cobalah perhatikan berbagai macam sikap orang ketika suatu waktu mendapati hujan benar-benar berhasil menghalangi aktivitas mereka. Hampir semua orang akan merutuk dan merasa sangat kesal, tanpa mau berpikir baik-baik bahwa tidak ada satu pun ciptaan Allah itu yang sia-sia. Bahwa dibalik segala sesuatu pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Padahal semua orang tahu, fenomena alam bernama hujan itu sudah sama tuanya dengan umur bumi ini. Hujan sudah ada jauh sebelum mereka ada. Tapi mereka tetap lancang mempersalahkan hujan, yang hanya datang menepati janjinya. Begitulah teman, hujan mengajarkan kita banyak hal. Kita bisa menganalogikan hujan sebagai musimnya masa-masa sulit dalam hidup. Ujian, tekanan-tekanan, kesulitan-kesulitan, masalah yang berat, dan ketidaknyamanan, bagaimana pun juga pasti suatu waktu akan datang menghampiri hidup kita. Kedatangannya ibarat musim yang bergilir-gilir dengan kesenangan dan kemudahan. Sejak dulu begitulah hidup manusia. Tak ada manusia yang tidak pernah menemi kesulitan dalam hidupnya. Ia sudah menjadi suatu keharusan yang kedatangannya sewaktu-waktu pasti akan tiba. Tapi lihatlah, bagaimana sedikit sekali orang yang bisa sabar ketika menghadapi kesulitan hidup, walaupun mereka tau kesulitan itu adalah sunnatullah yang biasa terjadi pada siapa saja, dan pasti akan pernah menemui siapa saja. Lihat juga betapa sedikit orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi “musim hujan hidup” mereka masing-masing. Dan yang lebih sedikit lagi orang yang bisa untuk tidak merutuk ketika menghadapi “musim hujan” tersebut. yang bisa menerima kesulitan sebagai satu hal lumrah yang pasti akan ditemui oleh siapa saja yang memutuskan untuk terus menjalani hidupnya. Sebagaimana hujan, kesulitan hidup semestinya tidak harus ia dihadapi dengan rutukan dan kekesalan berlebihan. Karena memang sudah janjinya untuk sewaktu-waktu menemui kita. Terimalah ia sebagai suatu yang biasa-biasa saja. jalani masa-masa sulit dengan baik, kemudiain temukanlah hikmah yang terkandaung di dalamnya. Sungguh, setiap kesulitan pasti mengajarkan pelajaran yang berharga. Pengalaman yang bisa dipetik untuk kemudian di masa depan bisa digunakan sebagai petunjuk berharga. Menghadapi kesulitan semestinay tidak terlalu membuat kita khwatir, sebab Alah telah berjanji bahwa dibalik semua kesulitan ada kemudhana. Dan Dialah satu-satunya yang tidak pernah mengingkari janji. Pastilah apa yang dikatannya akan Ia tepati. Masalahnya, terkadang kesulitan yang kita hadapi benar-benar membutakan mata kita sehingga tidak sanggup melihat kemudahan yang dimaksud tersebut. Teman, persiapkanlah diri kita sebaik mungkin untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Sediakanlah payung, sebab sewaktu-waktu hujan pasti datang. Dan yang terpenting, jangan pernah merutuki apa pun yang ditakdirkan oleh Allah untuk kita jalani. Bukankah dia tahu mana yang terbaik untuk kita. Jika yang diberikannya adalah kesulitan, ingat kembali bahwa tak akan Dia memberrikan ujian di luar kemampuan kita. Siapa tahu, dengan mendatangkan hujan Allah tengah merencanakan untuk memperlihatkan sebuah pelangi yang indah untuk kita. Ayolah, bukankah segaris pelangi di langit cerah, sehabis hujan sore-sore… keindahannya tak akan pernah bisa tergantikan bukan? … maka dari semua yang ter jatuh itu ada yang berusaha kembali ke langit untuk melukis pelangi *** Mungkin bagian akhir puisi ini justru menambah parah, tapi saya yakin anda sudah paham apa yang hendak saya sampaikan. Selamat mendengarkan hujan... (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Emha Ainun Nadjib
![]() Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||