| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenLelaki MerdekaPenulis: M. Raudah Jambak | Diposting: 19 Juli 2010 | Komentar: 0 komentarOrang-orang lewat begitu saja. Ada yang membawa bendera kertas sampai yang membawa gapura tujuhbelasan yang siap pasang. Kalaupun ada yang menyapa hanya tetangga terdekat saja. Tetangga yang selalu bergantian membawakan lauk untuk anaknya. Dan saat itu lelaki itu rela menunggu lama sampai Ogi selesai menikmatinya. Ia berkesempatan menikmati bagian yang tidak dihabiskan anakanya. Demi mengingat peristiwa itu, lelaki itu pun tersenyum di atas tempat duduk usangnya. Orang-orang hanya geleng kepala, sebagian tersenyum geli. Lelaki itu tak peduli. Bayangan makan bersama Ogi, kembali. Pada saat itu, bukannya ia tak mau mendahului, tetapi karena Ogi anak satu-satunya dan memerlukan tambahan gizi yang ia sendiri tidak mampu memberikannnya. Selama ini, semasa masih hidup, Tukiyem yang habis-habisan banting tulang menghidupi keluarga mereka sebagai buruh cuci tetangga. Itupun bagi yang bersimpati. "Makanya abang kerja. Apa kek, ngebecak atau apa saja yang penting halal ." Lelaki itu hanya pergi melengos begitu saja. Pergi pagi jam dua pagi baru kembali praktis satu hari itu dia hanya sibuk mengurusi diri sendiri. Selain ikut-ikutan berjudi, lelaki itu selalu menggalang barisan demonstrasi. Selalu begitu, tak ada waktu, kilahnya. "Kembalikan uang rakyat! Kembalikan Uang rakyat!" teriaknya berapi-api,"rekening listrik tak boleh telat. Pembayaran pun lebih sering tak sesuai meteran. Kembalikan uang rakyat!" Tak pelak rumah mereka selalu disantroni polisi berpakaian preman, atau orang-orang bayaran untuk menciduk Amran. Entah amalan apa, atau do'a apa yang sedang di ritualkan Tukiyem, yang pasti lelaki itu tidak pernah tertangkap. Termasuk hari ini. Bedanya, sekarang ini, lelaki itu begitu terpukul. Ia berusaha berkompromi dan rujuk bersama waktu. Hanya saja waktu ternyata masih penuh kesumat. Lelaki itu tidak pernah berhasil diterima bekerja di tempat ia datang melamar pekerjaan. Sementara Ogi harus dipenuhi kebutuhannya. Bedanya lagi di saat ini, saat mati lampu itulah saat yang paling di rindukannya, bertemu Tukiyem di mana ia suka. Ia bisa mengadukan apa saja. Ia bisa melakukan apa saja. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Debu semakin berseloro dengan dekapan angin. Orang-orang menghitung langkah kaki sepanjang jalan yang dititi. Perlahan lelaki itu bergerak, melangkahkan derak sendi-sendi. Orang-orang sudah sibuk dengan sumringahnya pesta kemerdekaan. Lelaki itu terus berjalan melangkahkan kakinya sambil membaca peta nasib di dirinya. Sepanjang jalan lelah dia hitung butir keringat yang jatuh. Senantiasa ia teringat isterinya. Acap ia dekap kata-kata anaknya. "Bang, jaga anak kita. Hanya dia satu-satunya anak kita, penerus kelangsungan keturunan kita." Amboi, betapa semakin rengkah terasa dinding hati. Koyak moyak rasanya lembar-lembar cinta yang sempat tertulis dengan tinta kesepahaman. Apalagi permintaan Ogi, anaknya, sampai sekarang belum terpenuhi. Entah mengapa listrik yang biasa mati, sudah seminggu ini tidak padam-padam. Apa lantaran menyambut hari kemerdekaan? Atau karena tekanan teman-teman demonstran? Suasana benderang baginya adalah kematian yang dicabut perlahan. Kalau orang-orang merasa punya ketergantungan dengan teknologi, maka sebaliknya bagi lelaki itu. Baginya mati lampu adalah anugerah yang disediakan Tuhan untuk dia manfaatkan. Dunia yang perlu ditaklukkan, saat ini. Begitulah, meski tak seperti dialog merak senja di persimpangan rahasia yang menjadi transit per-pindahan pagi menuju siang, dan siang yang mengintip diam-diam jubah malam, Amran hanya bisa membekap diam. Besok acara tujuh belasan, dia masih belum bisa membuktikan dan memenuhi keingi-nan anakanya. "Tunggu mati lampu ya, Nak!" Selalu begitu. Biasanya Ogi akan maklum dengan senyum yang paling culun. Tapi, untuk yang ketiga kalinya hari ini Ogi cukup rewel. Tidak mau pemakluman yang kesekian ribu kalinya dimaphumkan. Permintaannya kali ini sebenarnya sangat wajar. Tetapi untuk sekelas Amran, itu terasa sangat menjadi beban. "Pak, Ogi minta bendera,"mintanya jenaka, "Tujuhbelasan nanti Ogi kepingin bawa bendera kemana-mana. Satu aja, Pak. Bendera yang kecil itu." Pandangan lelaki itu tertuju kepada penjual bendera di pinggir jalan, tidak berapa jauh dari seberang rumah mereka. Bendera itu tersusun rapi dengan berbagai ukuran. "Ia, Pak. Yang kecil itu." "Ogi mau satu?" anaknya mengangguk, "tunggu mati lampu ya, Nak." "Nggak. Pokoknya harus." Ogi lalu berlari ke kamar. Lelaki itu mengejar, mengikuti. Tubuhnya yang kurus dengan wajah sepucat bulan, terlihat melayang di atas lantai tanah rumah mereka. Dia coba membujuk dari pinggir pintu yang tertutup. Tidak ada irama sahutan, selain nada tangisan. Dan jika begitu, kembali lelaki itu begitu merindukan mati lampu. Mengenyahkan orang-orang dari pandangan. Hanya dia dan Tukiyem saja. Berjalan perlahan meninggalkan rumah. Biasanya tempat yang paling ideal ia bertemu Tukiyem di SD Semangat bangsa. Hari sudah beranjak senja. Orang-orang masih sibuk memperiapkan hura-hura pesta. Pasang umbul-umbul di mana-mana. Malah ada yang memperbaharui rumah mereka dengan mengecat dinding rumah mereka. Besok tujuh belasan adalah puncaknya. Segala kegiatan yang menyambut ke-merdekaan dilaksanakan. Ibu-ibu pun tidak mau ketinggalan mempersiapkan makanan. Wah, aromanya menerjang-terjang hidung lelaki itu. Terasa mengggugah selera, melumat dinding perut Amran. Aduh, terasa persendian mengundang rusuh. Entah mengapa detak detak waktu terasa mengge-muruh, angkuh. Sepanjang jalan ia hitung tapak kaki yang telah ditancapkan di setiap kelokan jalan. Orang-orang seperti kupu-kupu dalam pandangan kaca jendela matanya. Kadang terbang, menukik atau malah menari-nari di setiap hitungan debu yang menghamblur di udara. *** Hari ini, di sekolah SD Semangat Bangsa, tepat tanggal hari kemerdekaan. Listrik mati. Lampu pa-dam. Orang-orang hilir mudik kegelisahan. Bukan untuk mempersiapkan acara perayaan kemerdekaan. Atau bendera yang lupa di pasang. Tapi, berkumpul untuk menggugah kemanusiaan. Di sebuah kelas, di atas sebuah meja belajar yang usang, seorang lelaki kurus dengan wajah sepucat bulan terbungkus sebuah bendera pada tubuh yang mencapai puncak kedamaian. Menjemput kemer-dekaan. Di sebelahnya, Ogi dengan baju seragam dan bendera kertas dalam genggaman, menitikkan luka pada butir air mata. Dan sebaris ingatan. "Tunggu mati lampu ya, Nak?" (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Aesop
![]() Aesop dikenal karena cerita-cerita fabel yang dianggap berasal dari dia. Berbagai macam kumpulan fabel dari Aesop masih diajarkan sebagai pendidikan moral dan digunakan sebagai subyek dari berbagai macam hiburan, khususnya dalam ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||