| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenKita, Tuhan, dan KedewasaanPenulis: Anonim | Diposting: 10 September 2011 | Komentar: 0 komentarJelas, panas terik matahari Yogya siang itu hanya menambah kerutan dahi saya yang harus ngonthel melalui jalan Kaliurang sana. Pulang ke kos. Bubar kuliah, seselesainya shalat di mushalla Sastra yang sempit itu. Entah takdir apa yang menentukan--dari Fakultas Sastra biasanya dengan sepeda unto—saya, kok, milih jalan itu ketimbang mlipir ke Karangbendo, Karanggayam sampai di Pandega Mandala. Di perempatan itu—sekarang namanya Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri—ada lampu merah. Buatan anak-anak Teknik, konon. Kakak ipar saya, katanya, terlibat dalam pembuatan lampu ajaib itu. Ajaib? Ya... bahannya berbeda dengan lampu umum biasa. Kacanya kaca jendela berwarna biasa, bukan kaca khusus untuk traffic light. Warna hijaunya lebih muda. Dan plat besinya sepertinya seng yang tipis. Lha, ajaibnya apa? Ya, itu.. banyak matinya ketimbang nyalanya! He.. he.. itu mah biasa, atuh... Siang itu si traffic light menyala. Saya yang dari tadi mengerut-ngerutkan dahi, berkeringat kepanasan, eh, kebagian merah pula. Jadilah menunggu. Jangan tanya rasanya. *** Karena saya hendak ke kanan, maka saya mengambil perhentian agak tengah. Di kiri saya, sedan bagus. Seorang ibu, wanita karir. Mungkin. Saya hanya melihat tampilan yang rapi. Rambut tertata. Blazer yang licin, dan parfum yang wangi! Berbanding terbalik dengan gaya mahasiswa saya: lethek, sepedahan, penuh keringat. Di belakang saya, ada motor lain dengan dua penumpang. Mahasiswi. Ini juga mungkin, lho, jika dilihat dari buku-buku yang dibawa oleh mereka. Di kanan saya, seorang pemuda. Gaya masa itu, dengan kemeja flanel kotak-kotak, gondrong, dengan tas punggung. Motor trail, pula! Mungkin semua simbol maskulinisme dan machois yang lengkap sudah. Tampang oke. Tunggangan oke. Ya, Tuhan, saya jujur: agak minder, saya, saat itu. Si pemuda gagah itu sejak berhenti, tidak henti-hentinya menarik gas dan memainkan koplingnya. Roooom. Rooom... klak. Room, rooom.. klak. Mengaum, menyalak. Seperti siap menerkam, begitu. Tidak sabar menunggu lampu hijau. Kendaraan gaya itu selalu terhentak-hentak hendak melompat, sepertinya. Mungkin jika di arena, motor in hanya tinggal menunggu bendera start diangkat. Annoying! Si Ibu dalam mobil sedan kelihatan sekali tidak senang. Melirik tajam sambil sedikit memiringkan kepala, dan menaikkan sedikit kaca jendelanya. Kedua mahasiswi di belakang jelas tidak nyaman. Asap dari motorcross itu. Mereka menggeser motor mereka ke belakang mobil si ibu. Sambil bersungut-sungut. Saya, yah.. karena hanya jadi pelanduk di antara tiga gajah, yaaa... hanya bisa mengaruk kepala, walau tak gatal. Berharap lampu hijau segera menyala. Panas. Punggung berkeringat. Lampu merah. Motor pemuda gagah yang menderum-derum. Ibu berblazer dan dua mahasiswi keki. Lengkaplah “derita” terik siang itu. Rooom... rooom. Klak! Giliran sisi kami hampir tiba. Sisi seberang dan samping tampaknya sudah mulai melambat atau menghentikan kendaraan. Rooom... rooom. Klak! Saya melihat wajahnya: senyum tipis, dagu sedikit terangkat, dengan lengan yang memegang stang motor sedikit melebar. Hehe.. harusnya tak perlu dia lakukan bahasa tubuh itu. Dengan melihat semua perlengkapannya saja, saya bisa merasakan kebanggaan itu. Dan, sungguh, sekali lagi, seharusnya dia tidak perlu melakukan rooom-klak—rooom-klak itu. Hanya membuat saya makin minder dengan onthel ini sekaligus membuat si ibu dan mahasiswi makin senewen. Hijau! Roooooooooooom... klakkkkkk! Saya kira motor langsung melaju. Eh, ternyata tidak! Majunya hanya sedikit, tapi bunyinya derumnya keras sekali! Apa yang terjadi? Ah! Entah Tuhan mau memperlihatkan apa: rantai motornya putus! Si ibu menurunkan sedikit kaca jendela, entah bicara apa ke arah si pemuda, sambil melajukan kendaraannya ke arah jalan seberang. Kedua mahasiswi, ikut serta menyampaikan kekesalannya dengan membunyikan klakson panjang sambil bicara, “Makanyaaaaa!...” ke arah pemuda yang tiba-tiba kehilangan gagahnya itu. Saya, ah, sudahlah, mengayuh dengan berat saja meninggalkan pemuda dan motor gagahnya di tengah jalan itu. Ketimbang ikut-ikutan memaki---padahal ingin sekali—daripada malah kena hajar orang yang sudah menanggung malu berat itu. Dari seberang jalan, saya masih sempat melihat ke belakang: pemuda itu mendorong motornya dengan kepala menunduk. Lebih tunduk lagi, ketika mobil-mobil dari sisi lain--yang sudah kebagian lampu hijau--membunyikan klaksonnya berulang-ulang karena terhalangi jalannya, karena motor si pemuda gagah yang diseberangkan dengan lambat. Dituntun. *** Hingga hari ini saya masih bertanya-tanya, sebetulnya saat itu Tuhan sedang apa, ya? Jika Ia dipersonalisasikan, apa yang dilakukannya? Tertawa terguling-guling? Berkacak pinggang sambil mengangkat telunjuk? Atau jangan-jangan tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk kepala? Entahlah. Saya tak paham. Sebab, kita pun kadang kala seperti pemuda yang merasa di puncak zaman itu, merasa menjadi yang terhebat. Bangga dengan sesuatu: prestasi, posisi, profesi, kehormatan, gelar, kemampuan, gadget, brand, dan seterusnya. Namun dengan tiba-tiba “putus rantai, lampu merah, dipermalukan orang, dan menuntun bebannya sendirian”. Mungkin sudah terjadi berkali-kali. Dan kita tidak juga kapok. (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Andrie Wongso
![]() Andrie Wongso sering disebut sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia. Selain menjadi seorang motivator handal, Andrie Wongso juga dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||