Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Cerpen > Gadis dan Pohon Bernyanyi
 
 

Kategori Cerpen

Gadis dan Pohon Bernyanyi

Penulis: Anonim | Diposting: 16 Juli 2008 | Komentar: 0 komentar

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Di sebuah kota pelabuhan yang ramai tinggallah seorang anak perempuan yatim piatu. Gadis namanya. Ayah dan ibunya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sejak itu Gadis tinggal bersama bibinya. Namum bibinya sangat kasar kepadanya. Gadis amat sedih. Akan tetapi ia mencoba tabah dan sabar.

Gadis adalah anak yang rajin. Ia berusaha mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Salah satunya adalah mengambil air dari sumur. Letak sumur itu sangat jauh dari rumah. Untunglah di tengah jalan ada sebatang pohon tua yang besar dan rimbun. Gadis sering singgah di bawah pohon itu untuk melepas lelah.

Kadang-kadang, Gadis menangis sedih di bawah pohon itu. Ia merasa sendirian di dunia ini. Ia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Diantara isak tangisnya, Gadis senantiasa berdoa agar Tuhan menjaga dan menolongnya. Anehnya, setiap kali ia menangis, pohon itu selalu mengembangkan ranting-rantingnya. Daun-daunnya bergerak dengan lembut dan berirama. Desiran halusnya bagaikan nyanyian merdu. Gadis selalu terpesona mendengarnya. Sehingga ia lupa akan kesedihannya. Bahkan sampai tertidur. Bila ia tertidur pohon itu menundukkan ranting-ranting daunnya. Supaya Gadis terlindung dari panas matahari. Jika Gadis terlalu lama tertidur, pohon itu akan menjatuhkan daun-daunnya ke pipinya yang halus. Gadis jadi terbangun karenannya.

Hari demi hari pun berlalu.. Raja akan membuat sebuah kapal pesiar. Pohon-pohon tua yang ada akan ditebang. Kayunya digunakan untuk membuat kapal. Gadis menjadi gelisah, ia cemas kalau pohon tuanya akan turut ditebang.

Siang itu, sepulang mengambil air dari sumur, Gadis singgah sejenak di bawah pohon tuanya. Ia melihat tanda silang putih pada batang pohon itu. Berarti pohon kesayangannya akan ditebang. Hati Gadis sedih sekali. Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Tanggannya memeluk pohon yang dikasihinya.

"Pohonku, mungkin hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita. Esok mereka akan menebangmu. Aku akan kehilangan satu-satunya teman yang kumiliki. Aku sedih sekali. Tapi aku tak dapat mencegahnya. Selamat jalan pohonku," isak Gadis.


Seperti hari-hari yang lalu pohon itu kembali menundukkan ranting-rantingnya dan daun-daunnya. Seolah-olah memeluk Gadis. Daunnya mengusap lembut pipi Gadis. Tak terdengar nyanyian dari pohon itu.

"Jangan sedih, anak manis. Kapal itu tak akan berlayar tanpa kehendakmu. Naiklah dan ikutlah berlayar bersamanya kelak. Maka kita akan bersama-sama lagi," bisik pohon itu menghibur hati Gadis.

Esok pagi pohon itu ditebang. Beberapa bulan kemudian selesailah kapal yang diinginkan Raja. Sebuah pesta meriah diadakan saat kapal itu akan berlayar untuk pertama kalinya. Namun ketika akan diluncurkan, kapal itu sedikitpun tak mau bergerak meninggalkan dermaga. Penduduk mencoba mendorongnya. Namun kapal itu tetap tak bergerak. Raja menjadi kecewa dan marah.

Berita mengenai kapal yang tak mau bergerak itu akhirnya terdengar oleh Gadis. Ia teringat pada pesan terakhir pohon tuanya. Dengan susah payah Gadis pergi ke pelabuhan kota. Dan berhasil menemui Raja. Ia minta izin agar boleh melayarkan kapal tersebut. Raja semula tak percaya. Tapi karena kapal itu tak mau bergerak, akhirnya Raja mengizinkan. Gadis pun bergegas naik ke atas kapal. Penuh rindu diusapnya anjungan kapal itu.

"Pohonku, tolonglah aku. Bergeraklah, berlayarlah .. Seluruh penduduk kota ini ingin menyaksikan engkau berlayar ke lautan lepas."

Semua orang berdebar menanti apa yang akan terjadi. Kapal itu bergerak sedikit demi sedikit. Lalu lepaslah ia dari sandarannya. Dengan tenang ia melaju ke laut. Penduduk kota bersorak gembira. Raja tak kurang pula gembira hatinya. Gadis dipeluknya.

"Bagaimana engaku bisa membuatkapal ini berlayar?" tanya Raja dengan takjub bercampur heran.

"Berkat rahmat Tuhan, Yang Mulia. Kebetulan kapal ini terbuat dari kayu pohon tua sahabat saya, " jawab Gadis dengan santun.

Kemudian Gadis menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Raja. Hati Raja tersentuh. Sejak itu Gadis tinggal di istana dan menjadi anak angkat Raja. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Emha Ainun Nadjib
Foto Emha Ainun Nadjib
Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori CerpenGadis dan Pohon Bernyanyi
Di sebuah kota pelabuhan yang ramai tinggallah seorang anak perempuan yatim ...
Artikel Kategori CerpenDokter Gigi
Pada suatu hari ada seorang kakek pergi ke dokter gigi untuk ...
Artikel Kategori CerpenDoa Untuk Sahabat
Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. ...
Artikel Kategori CerpenDi Dusun Lembah Krakatau
Banjo berjalan gontai pelan-pelan di belakang emaknya. Burung-burung gagak hitam terbang ...
Artikel Kategori CerpenDendang Sepanjang Pematang
Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
5
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -