Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Cerpen > Bukan Perempuan Biasa
 
 

Kategori Cerpen

Bukan Perempuan Biasa

Penulis: Anonim | Diposting: 8 April 2011 | Komentar: 0 komentar

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
Perempuan itu sibuk sekali..

Malam merambat pelan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.25. Perempuan itu masih saja setia dengan pekerjaannya. Larut di depan layar komputer pada sebuah warnet. Berteman barisan kata yang dipencetnya, kadang cepat sekali, kadang pelan. Seolah memainkan sebuah irama tersendiri. Irama kerja yang dijalani bertahun-tahun, ya, bertahun tahun lamanya. Malam itu, saya mendapatinya sedang sibuk memasukkan materi-materi kuliah pada sebuah situs sebagai bahan ajar di kampusnya.

Serius sekali dia. Apakah dia seorang workaholic, sangat “gila” kerja ?. Entahlah. Katanya “Ini harus saya kerjakan sekarang, agar lebaran bisa tenang”. Ooo…, rupanya ada target tersendiri. Semua pekerjaan harus selesai sebelum pulang kampung. Malam itu dia ngebut, menuntaskan pekerjannya. Menurut ceritanya, tak banyak rekan kerjanya yang familiar dengan teknologi, khususnya internet. Jadi, mau tak mau, karena dia lama tinggal di luar negeri dan sudah akrab dengan yang namanya teknologi, ya, mau tak mau dia yang meng-handle pekerjaan itu. Hal itu dilakukannya dengan senang hati.

Saya memang belum lama mengenalnya. Tapi sudah akrab, ini menurut pendapat saya. Setidaknya saya merasa sok akrab saja. Bukan apa-apa, saya paling suka menemui orang yang berilmu dan serius dalam setiap pekerjaan. Nah, perempuan ini salah satunya. Dia cerdas, setiap kali ngobrol dengannya pasti ada ilmu baru yang saya dapatkan. Baik ilmu yang menyangkut soal akademis, maupun kisah-kisah kehidupan yang dialaminya. Selain itu, pembawaannya juga asik. Pintar berkomunikasi dan bergaul dengan siapa saja. Bahkan, tak sungkan untuk ngobrol informal dengan mahasiswa di emper perpustakaan atau taman kampus.

Dia itu perempuan tak biasa...

Yang membuatnya beda banyak, diantaranya tak begitu bergantung pada orang lain. Semangatnya adalah kemandirian. Segala pekerjaan, kalau memang bisa dilakukannya, ya dikerjakannya sendiri. Selain itu, dia tak suka gembar-gembor bicara soal emansipasi wanita, ngomong soal feminisme atau sesuatu yang kerap dibincangkan oleh para aktivis perempuan. Namun, dalam kehidupan keseharian justru apa yang dilakukannya itu sudah mencerminkan bagaimana soal kesetaraan mesti dijalaninya.

Dalam sebuah forum misalnya, dia selalu angkat bicara mengenai ilmu yang menjadi kompetensinya. Disana dia bertarung wacana, tak mau kalah dengan “para lelaki”. Kalau merasa tidak tahu mengenai sebuah persoalan, jujur dikatakannya “Maaf, saya tidak tahu soal ini”. Sebuah contoh sikap rendah hati. Jarang kan ada akademisi yang mau mengakui keterbatasan ilmunya. Yang banyak, tentu akademisi yang kerap mengumbar wacana yang kadang belum tentu benar. Kalau dikritik, tak mau, gengsi. Dia beda, pintar tapi rendah hati. Saya tak akan memujinya berlebihan. Hanya, mau bersikap adil saja. Setidaknya, hanya mau berkata “Ini loh ada akademisi yang patut dicontoh”.

Suatu kali, di hari minggu dia masih saja bekerja. Saya iseng nyeletuk. “Hari minggu kok masih kerja, nggak liburan atau bersantai sejenak, Mbak?”. Eh, dibalasnya “O..tidak bisa”. Rupanya, dia tak setuju dengan kata “santai”. Dalam kamus hidupnya, tak ada rumus “santai”. Kemudian dia cerita sebuah hadist nabi. Intinya, kalau orang itu tahu rintihan orang yang sudah mati dikubur, ia tak akan bersantai-santai, ia akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Mendengar nasehatnya, saya hanya nyengir malu lantas mengiyakan pendapatnya, sambil merasa bersalah. Ah…dia memang perempuan tak biasa. (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Putu Wijaya
Foto Putu Wijaya
Beliau mempunyai nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori CerpenBukan Perempuan Biasa
Perempuan itu sibuk sekali.. Malam merambat pelan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul ...
Artikel Kategori CerpenBukan Cinta Segitiga
Seharusnya aku tak membuka rahasia ini, tetapi sepertinya aku sudah tak ...
Artikel Kategori CerpenBukan Aku Tak Cinta
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. ...
Artikel Kategori PuisiSetidaknya Aku Tahu
Hidupku. . tidaklah untuk disini. . tapi untuk disuatu tempat diantara ...
Artikel Kategori CerpenBolong
Nying dan Nyong yang punya kegemaran pesiar ke gedung DPR, mereka ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
7
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -