| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenBukan Cinta SegitigaPenulis: Ardyansah | Diposting: 25 Juli 2009 | Komentar: 3 komentarAku masih ingat saat pertama kali memandang wajahmu, kau menangis menjerit kebingungan mencari kehangatan, suara tangis sopran-mu memecah kebekuan dan keheningan Taman Bungkul malam itu, tetapi aku hanya bisa menatapmu, tertegun mengagumi dan mensyukuri tubuhmu yang telanjang sempurna. Jantungku berdesir, aku seketika merasa menjadi laki-laki. Bersamamu, aku tak lagi punya waktu membelai istriku, aku kehabisan pujian untuk menyanjung kewanitaan istriku, aku merasa tak punya apapun selain untuk kuberikan padamu. Sampai kemudian istriku tahu, dicercanya aku dengan segala cemburu, tanya, pinta, dan iba, direnggutnya tubuhmu dari pelukanku, aku terkesiap ingin marah, tetapi istriku malah menciummu. Aku terdiam, tak bisa berbuat apa-apa, sebab bagaimanapun, istriku adalah ibumu juga… (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarDikirim oleh: komplikasi jiwa pada 25 Oktober 2011 Hloh ??? Dikirim oleh: wanny pada 30 Oktober 2011 mksudx???? Kogh Bza gi2....?? Dikirim oleh: arif wachyudin pada 11 November 2011 ya itu tulisan bwt anaknya..jadi ada 3 pihak dalam tuylisan itu: ayah, ibu, dan anaknya. sudut pandangnya sang ayah, getoo.. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Putu Wijaya
![]() Beliau mempunyai nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara ... |
||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||