| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenBolongPenulis: Yongki HS | Diposting: 30 Maret 2011 | Komentar: 0 komentar“Kalau kaos bolong, bolongnya bisa kotak-kotak. Tapi kalau kotak bolong, bolongnya tak bisa kotak-kotak. Gampang Nying itu kuno. Sekarang aku tanya, Apa beda duit bolong dengan kotak bolong?”, balas Nyong. “Gampang juga, jawabnya sama; Kalau duit bolong, bolongnya bisa kotak-kotak, tapi kalau kotak bolong, bolongnya tak bisa berduit-duit!”, jawab Nying. “Bahlul. Salah Nying salah besar, itu kuno, yang lagi ngetop sekarang adalah kalau duit bisa bolong karena kotak, tapi kotak bolong pasti karena duit!” “Hah, pasti nyumu lagi omong hasil voting tadi ya? Kotak Banteng maksudmu? Sendiri punya kotak tak terisi, malah mengisi kotak orang lain, itu kan maksudmu?” “Nying, Nying,…buat apa urus voting itu? Itu urusannya orang pinter yang sering keblinger, bukan urusan kita. Urusan kita tentang kotak bolong itu saja, tak usah jauh-jauhlah!” “Jadi buat apa kita ke sini kalau bukan urusan voting ini?” “Urusan kita cuma nonton dan kebetulan yang kita tonton hari ini adalah Dagelan Demokrasi, tak usah banyak komentar, kalau memang lucu ya kita tertawa saja”. “Kalau tidak lucu tapi menggelikan?” “Kita yang salah, tidak lucu kok bikin geli!” “Kalau kenyataannya begitu?” “Tetap kita yang salah, makanya dulu sudah diperingatkan oleh orang-orang pinter, kalau mau pilih pemimpin pilihlah pemimpin, jangan pilih pelawak!” “Kau kira gampang pilih? Pemimpin dan pelawak itu bedanya tipis banget. Sebelum terpilih gayanya benar-benar kayak pemimpin, begitu terpilih mimpinnya kayak pelawak, aslinya yang keluar. Hak rakyat dikira hak pribadi. Fasilitas untuk meningkatkan kinerja malah dipakai untuk berfoya-foya. Bahkan kadangkala pura-pura lupa antara uang negara dengan uang neraka. Dulu waktu musim kampanye minta dipilih eh sekarang giliran milih diri sendiri saja tidak bisa. Lucukan? Itukan maksudmu kotak bolong pasti karena duit?” “Tak usah sewot Nying. Bukan itu maksudku. Tapi kalau kamu ngomong soal hasil voting, apa salahnya orang bersikap jujur, bukankah kita butuh pemimpin yang jujur?” “Kau gila Nyong! Masak, sikap seperti itu kau bilang jujur?” “Lha iyalah! Namanya jadi Ketua DPR itu tidak gampang, memimpin orang-orang yang mewakili seluruh aspirasi rakyat. Dibutuhkan, keuletan, kearifan, kepintaran, kepiawaian plus kenekadan, kalau bisa lagi plus kepekaan, kemauan untuk maju dan kejujuran. Lha kalau syaratnya saja seperti itu, terus merasa tidak mampu, apa bukan lebih baik bersikap jujur untuk tidak mau menjadi ketua DPR? Bersikap untuk tidak memilih diri sendiri menjadi ketua, bukankah itu jujur, Nying?” “Walah Nyong….dasar kamu yang kelewat bahlul. Kalau sudah berani mencalonkan diri, ya harus berani menunjukkan sikap layak untuk dicalonkan. Caranya minimal berani milih diri sendiri, bukan malah suaranya nyelonong ke lain orang. Kalau tak berani harusnya mundur sebelum pemilihan. Kalau yang terjadi seperti ini bikin malu, bukankah ini persis kau bilang tadi, kotak bolong pasti karena duit?” “Belum tentu!” “Belum tentu bagaimana?” “Belum tentu dia yang mencalonkan diri, mungkin karena terpaksa?” “Terpaksa kau bilang? Apa ia duduk sebagai anggota juga karena terpaksa? Apa sikap untuk tidak memilih itu juga karena terpaksa? Apa kita duduk nonton dagelan ini juga karena terpaksa?” “Mungkin!” “Mungkin kau bilang? Apa mungkin kadernya memang bolong-melompong alias kosong-alias nol? Apa mungkin ini bagian dari konspirasi politik? Apa mungkin ini sisa-sisa dari budaya menurut petunjuk dari atas? Apa mungkin justru ini menurut petunjuk perut?” “Bisa jadi memang begitu?” “Memang begitu kau bilang? Apa politik itu memang begitu? Apa Demokrasi itu memang begitu? Apa orang-orang DPR kita memang begitu? Apa kotak bolongmu tadi memang bolong karena duit? Begitu?” “E…ya. Hah tidak!” “Apa kau bilang? Ya atau Tidak?” “E…sabarlah Nying, kenapa jadi sewot begini, kita ini hanya penonton kan?” “Biar hanya penonton status kita ini rakyat dan yang kita tonton adalah Sandiwara Rakyat, pantas kan kalau saya kecewa terhadap tontonan yang tidak bermutu?” “Kecewa boleh-boleh saja tapi tak usah sewot Nying! Lagi pula ini tontonan gratis, karcisnya terlanjur kita bayar waktu Pemilu dulu!” “Dan dagelan ini masih bersambung sampai lima tahun lagi. Begitu?” “Hehe…santai Nying, santai….lebih baik kita bicara soal kotak bolong tadi. Kau tahu tidak apa itu artinya kotak bolong pasti karena uang?” “Apa?” “Kotak yang dibikin buat celengan/tabungan!” “Haha…bisa saja kau Nyong! Tapi justru kotak itulah yang harus jadi urusan kita sebagai rakyat. Lebih baik kita kerja apa yang harus kita kerjakan untuk ditabung hasilnya bagi masa depan tak usah pusing-pusing mikir hasil voting yang bolong!” Helatan akbar Pemilihan Ketua DPR telah usai, dari 25 suara Drh. Katanga Ndilu memperoleh: 13 suara, Drs. Lekas Maju Tak Gentar: 12 suara dan Darimus Hawus Sekali: 0 suara. Gedung DPR sepi kembali semua telah pulang dan ternyata Nying dan Nyong adalah orang yang paling terakhir meninggalkan Gedung DPR. Dalam perjalanan pulang Nyong bertanya pada Nying, “Eh, kalau kau jadi anggota DPR dari ketiga calon tadi, kau pilih siapa?” “Saya pilih tak usah jadi anggota DPR!” “Haha…ini yang namanya BOLONG!” Waingapu, Awal Desember 2004 (Tulisan ini merupakan Parodi Pemilihan Ketua DPR Sumba Timur) CATATAN: Tulisan ini belum pernah dipublikasikan di media lain. Onky HS/Yongky HS/Yonhs Wunang/YHS Rakasiwi: beberapa tulisannya (esay) pernah dibukukan dengan judul: CARA MUDAH MASUK SORGA-EDISI PERCOBAAN, Editor: FRANS W. HEBI, Dicetak terbatas untuk kalangan sendiri. Beberapa tulisannya pernah dimuat di: Wunang, Waingapu Pos,Tambur, Sabana, Fajar Bali, Bangkit, Horizon. Cerpennya : Suanggi (Cerpen dengan seting Budaya Sumba) Terpilih sebagai 15 Cerpen Terbaik Peraih Anugrah Sastra Majalah Horizon 2005 (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Emha Ainun Nadjib
![]() Lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||