Bahasa Indonesia | English Version
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
.
  Kembali ke beranda Beranda > Kategori Cerpen > Berwisata di Pantai Widara Payung
 
 

Kategori Cerpen

Berwisata di Pantai Widara Payung

Penulis: Rhagiel Janaka el Putranto | Diposting: 09 Mei 2009 | Komentar: 0 komentar

Heliconia Villas
Komplek villa mewah di Bali, lengkap dgn kolam renang, ruang tengah, dapur & kmr mandi semi terbuka
www.heliconiavilla.com

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Ulasan lengkap mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat di Blog Personal milik Arif Wachyudin
www.arifwachyudin.com/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html

Laxmicreations Jakarta
Menyediakan berbagai macam karangan bunga, bunga papan & parcel sbg ucapan selamat
www.laxmicreations.com

Mau pasang iklan juga? klik disini
HALO KAWAN-KAWAN. Namaku Naka, umurku 4 tahun. Hari Minggu ini aku bersama-sama Mama, Papa dan adik-ku akan berwisata ke pantai Widara Payung. Wah, sepertinya asyik sekali ya. Aku membayangkan bisa sepuasnya bermain bola di hamparan pasir nan luas. Aku senang sekali, dan tidak sabar lagi untuk segera ke sana.

Nah, hari yang aku nanti itu telah tiba. Tepat pukul jam 7 pagi, kami berangkat menuju pantai yang letaknya di Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu. Ternyata jarak dari rumahku ke pantai ini jauh sekali. Aku sampai capek dan pegal duduk di atas sadel motor, begitu juga adik-ku. Tapi akhirnya aku sampai juga ke pantai ini.

Untungnya cuaca hari ini tidak panas, sedikit mendung. Justru seperti itu yang asyik untuk bermain bola yang sudah disiapkan Papa sejak kemarin. Wow…ternyata pengunjung pantai ini banyak sekali. Beberapa orang dewasa sedang berselancar. Ada juga yang sedang bermain voli. Ada juga seorang anak bersama Papa-nya yang sedang naik kuda tunggang menyusuri pantai. Sedangkan beberapa lagi hanya sekedar berenang. Bahkan kata Kak Taryo, pemuda asli Widara Payung, kadangkala ada beberapa anak kecil yang bermain sepeda motor balap. Setelah menemukan tempat kosong, aku dan Papa bergantian memainkan bola. Sedangkan Mama dan adik-ku membuat replika istana dan kura-kura dari pasir pantai sambil sesekali memerhatikan kami bermain bola.

Ketika aku sedang asyik-asyiknya memainkan bola, tiba-tiba Papa berlari-lari mengejar seekor kepiting laut, yang oleh orang sini disebut yingking. Aku pun ikut mengejar makanan bebek itu. Untungnya Papa-ku cekatan, sehingga berhasil menangkap binatang berkaki delapan itu sebelum masuk ke dalam pasir. Setelah itu, aku dan Papa-ku menghampiri Mama dan adik-ku yang sedari tadi senyum-senyum memerhatikan kami memburu kepiting itu. Karena penasaran, adik-ku yang baru berumur 2 tahun itu pun memegang hewan sebesar jempol kaki Papa-ku itu. Bersamaan itu, adik-ku menjerit lirih karena jari-jarinya dicengkram kaki-kaki kepiting itu. Bergantian kami melepaskan kepiting itu, lalu cepat-cepat menangkapnya kembali sebelum masuk ke kedalaman pasir. Setelah kami merasa capek, barulah kepiting itu dilepaskan ke laut. Kapan-kapan kita jumpa lagi ya, kepiting! Begitu pikirku.

Satu lagi permainan yang mengasyikkan, kata Kak Taryo, adalah bermain bola berduri. Jangan salah Kawan-kawan, bola ini tidak menyakitkan badan kita. Itu hanyalah bunga yang mirip dengan binatang landak. Bunga berbentuk bola ini banyak di sekitar pantai. Perhatikan cara bermainnya ya. Lemparkan bola berduri mendatar saja sampai menyentuh pasir seperti kalian bermain bowling. Karena tiupan angin, maka bola itu akan menggelinding. Anak-anak pantai sini seringkali mengadakan “lomba” balapan bola berduri ini lho.

Kata Kak Taryo, negeri kita memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Wahhh…sebagai anak Indonesia, tentu aku sangat bangga dengan keberadaan pantai ini.

Sambil berlari-lari kecil, kami menuju ke sebuah warung di pinggir pantai. Terhampar banyak makanan khas Banyumasan. Ada mendoan (tempe yang dilapisi tepung beras lalu digoreng). Ada juga gorengan binatang laut (warga sini menyebutnya dengan yutuk). Dan tentu saja nasi pecel dan tahu masak (tahu dipotong-potong kecil yang ditaburi kecambah hijau lantas disiram kecap agak encer). Karena dua makanan ini bisa ditemukaan di semua warung yang ada di pinggir pantai Widara Payung itu. Setelah cukup kenyang dan tenggorokan sudah basah oleh wedhang teh hangat, kami pun bergegas ke pemandian. Selain untuk membersihkan badan setelah bermain di pantai, tempat ini juga menyediakan wahana untuk berenang, baik untuk anak kecil maupun dewasa.

Tak jauh dari tempat pemandian terbentang lahan kebun yang ditanami ratusan pohon kelapa. Terlihat beberapa pria sambil membawa botol menaiki pohon kelapa tersebut. Oh…ternyata mereka sedang men-deres. Air tuak inilah yang akan jadi bahan pembuat gula kelapa atau gula merah atau gula Jawa.

Begitulah teman-teman pengalamanku berkunjung ke Pantai Widara Payung. Sampai jumpa dengan cerita yang lain lagi. Daah… (www.pondokbaca.com)

kirimkan artikel ini ke teman Kirim artikel cetak dan print artikel ini Cetak artikelbagikan artikel ini di delicious! bagikan artikel ini di digg! bagikan artikel ini di facebook! bagikan artikel ini di google! bagikan artikel ini di newsvine! bagikan artikel ini di reddit! bagikan artikel ini di simpy! bagikan artikel ini di spurl! bagikan artikel ini di stumbleupon! bagikan artikel ini di technorati! bagikan artikel ini di twitter! bagikan artikel ini di yahoo!

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar untuk artikel ini..

Kirim Komentar

Nama Anda:
Email:
Blog/Website:
Komentar Anda:
Masukkan kode:
 
Kategori

Pasang iklan murah cuma 90 ribu sekali seumur hidup

Artikel Terbaru:
13 April 2012 - Kategori Humor
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
3 April 2012 - Kategori Humor
Pintu yang Selalu Terbuka
3 April 2012 - Kategori Motivasi
Hikmah Cerita Keledai
3 April 2012 - Kategori Humor
Ujian Susulan Empat Mahasiswa
3 April 2012 - Kategori Humor
Jangan Terlalu Dalam

Sponsor Kami:



Info Lowongan Kerja
Butuh info lowongan kerja? Disini tempatnya. Tersedia informasi lowongan pekerjaan yang selalu update
www.karir.com


Profil Penulis:
Putu Wijaya
Foto Putu Wijaya
Beliau mempunyai nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara ...

Mau dapet update artikel lewat email?
Silakan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

 
 
Artikel Kategori CerpenBerwisata di Pantai Widara Payung
HALO KAWAN-KAWAN. Namaku Naka, umurku 4 tahun. Hari Minggu ini aku ...
Artikel Kategori RenunganKepribadian Fleksibel dan Kepribadian Bunglon
Kita sering kali salah mengartikan kata fleksibel itu berubah-ubah dan tidak ...
Artikel Kategori CerpenBento dan Wanita Tua
Kali ini ane akan cerita sedikit tentang si Bento dan Wanita ...
Artikel Kategori CerpenBelilah Ikanmu Sendiri
Seorang perdana menteri Cina yang cakap, Gonsong Yee, gemar sekali makan ...
Artikel Kategori CerpenBelajar Mendengarkan
Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, ...
 
  ˆ Kembali ke atas  
Online user
6
 
  Klik RSS Feeds ini untuk berlangganan artikel di Pondokbaca.com
- - -