| Bahasa Indonesia | English Version |
PondokBaca
Kumpulan artikel motivasi, renungan, humor dan puisi
|
|||||||||||||||
| . | |||||||||||||||
Kategori CerpenApa yang Anda Selundupkan?Penulis: Anonim | Diposting: 05 Mei 2009 | Komentar: 0 komentarCeritanya adalah tentang kecurigaan seseorang bernama Diro pada seorang pengendara sepeda yang ia yakini adalah seorang penyelundup. Diro adalah seorang polisi penjaga perbatasan antara dua propinsi yang hanya dipisahkan oleh sawangan yang tidak terlalu panjang. Setiap hari Diro standby di posnya. Pekerjaan utamanya adalah memeriksa kendaraan-kendaraan yang keluar masuk, untuk memastikan tidak ada terjadinya penyelundupan barang gelap. Soalnya propinsi tetangga tersebut terkenal sebagai pusatnya penyelundupan barang dari negara tetangga. Letaknya yang sangat strategis dan merupakan jalan lintas utama antar dua negara membuat propinsi tetangga tersebut menjadi gudangnya barang-barang selundupan. Tugas Diro dan teman-temannya adalah memeriksa setiap kendaraan yang lewat, apakah barang-barang yang mereka bawa mempunyai dokumen resmi atau tidak. Begitulah pekerjaan Diro. Sudah seringkali ia dan teman-temannya berhasil menggagalkan usaha penyelundupan barang gelap tanpa dokumen. Beberapa kali juga ia berhasil mengantarkan penyelundup ke pihak berwajib. Namun ada satu hal yang selau menarik perhatian Diro, yakni seorang laki-laki tanggung bersepeda yang sangat sering ia lihat melewati perbatasan. Dalam seminggu kadang-kadang sampai tiga kali lelaki itu lewat di depan pos Diro dengan sepedanya. Diro menaruh curiga pada lelaki tersebut. Dari gaya-gayanya Diro yakin pasti lelaki itu menyelundupkan sesuatu. Karena sudah sering memergoki penyelundup, Diro hapal betul bagaimana tingkah laku khas seorang penyelundup.. Saat diperiksa biasanya dari tingkah laku dan ekpresi wajahnya sudah bisa ditebak apakah orang tersebut seorang penyeleundup atau bukan. Lelaki bersepeda itu benar-benar menunjukkan sikap-sikap mencurigakan. Saat Diro menanyainya lelaki itu kelihatan gugup dan pucat, persis ekpresi penyelundup pada umumnya. Tapi anehnya Diro tidak bisa menemukan apa sebenarnya yang diselundupkan oleh lelaki itu. Lelaki itu tidak membawa apa-apa dalam tasnya. Hanya bekal makanan dan minuman saja. Tapi Diro yakin lelaki itu sedang menyelundupkan sesuatu. Karena itulah beberapa kali setelah itu ia tetap mencegat lelaki bersepeda tersebut untuk memeriksa tasnya, bahkan kantong-kantong pakaiannya. Namun Diro tetap tak bisa menemukan apa-apa. Diro pun putus asa. Setiap kali ia memeriksa selalu ia tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dibiarkannya saja lelaki itu lewat. Walau dalam hatinya masih sangat curiga sekaligus penasaran. Lelaki bersepeda itu pun semakin leluasa dan berani. Malah sekarang ia selalu melambaikan tangannya kepada Diro setiap kali lewat di depan pos, membuat Diro semakin dongkol. Bertahun-tahun setelah itu Diro dipindahtugaskan ke kota. Suatu ketika ia bertemu dengan lelaki bersepeda itu di sebuah pasar. Karena masih menyimpan rasa penasaran akhirnya Diro mendekati lelaki itu. “Saya yakin anda menyelundupkan sesuatu. Tolong kasih tahu saya. Saya sangat penasaran. Saya berjanji tidak akan melaporkan anda.” Kata Diro dengan penuh harap rasa penasarannya akan terungkap . Lelaki itu pun tersenyum, “Benar anda tidak akan melapor?” tanyanya. Diro mengangkat tangannya pertanda ia benar-benar berjanji. “Benar! Saya tidak akan melaporkan anda. Saya sekarang sudah tidak bertugas di sana lagi. Saya benar-benar penasaran. Tolong kasih tahu saya, apa yang anda selundupkan saat itu?” Lelaki itu pun kembali tersenyum sambil menjawab dengan tenang, “Sepeda.” *** Cerita yang lucu bukan? Kami sekelas waktu itu tertawa semuanya mendengar cerita itu. Apalagi dosennya pandai bercerita. Tapi waktu itu semua selesai begitu saja. Tak ada yang kami dapat selain lucunya. Baru lama setelah itu saya mulai terpikir hikmah yang besar yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Begitulah teman, menurut saya, seringkali dalam hidup ini, karena kita sibuk mencari hal-hal yang kecil dan rumit membuat kita akhirnya tidak bisa melihat hal-hal yang paling besar dan sangat tampak sekalipun. Seperti pada ilustrasi di atas, betapa sang Polisi tidak bisa melihat sesuatu yang paling besar di depan matanya, dikarenakan ia sibuk mencari hal-hal yang kecil dan tersembunyi. Ia sibuk mencari-cari di dalam tas dan kantong orang yang dicurigainya menyelndupkan sesuatu, sehingga ia tidak dapat melihat sepeda yang sebenarnya adalah barang paling besar yang dimiliki lelaki itu. Dan ternyata sepedalah yang sebenarnya diselundupkan oleh lelaki itu berulang-ulang. Demikian juga yang sering terjadi pada kita. Sangat sering dalam hidup kita melupakan sesuatu yang besar dan sangat tampak hanya karena pikiran dan perhatian kita terfokus pada hal-hal yang kecil. Contohnya saja ketika kita kehilangan sesuatu, biasanya kita akan jadi sangat gusar dan sedih. Padahal yang hilang tersebut sebnarnya hanyalah sebagian sangat kecil dari keseluruhan yang kita punya. Yang masih tersisa dan masih ada bersama kita jauh lebih banyak dari yang hilang tersebut. Kehilangan uang sepuluh ribu bisa membuat kita uring-uringan, padahal yang masih ada di kantong kita jumlahnya masih sembilan puluh ribu. Sedangkan kita semua tahu bahwa sebenar-benarnya kita tak punya daya upaya untuk menjaga apa-apa yang kita miliki agar tidak hilang dari diri kita. Toh, kalau saja yang hilang justru yang sembilan puluh ribu itu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Bukankah hilangnya yang sepuluh ribu itu tidak kita kehendaki. Kita tidak menentukan berapa jumlah yang akan kita hilangkan. Andai saja Tuhan menginginkan jumlah yang hilang lebih banyak dari jumlah yang tertinggal, apa daya kita? Toh, tak ada daya upaya kita? Mengapa kita jadi gelap mata, sempit hati, serta tidak bisa bersyukur untuk semua yang masih tersisa? Qona'ah (sikap mampu menerima) itu indah dan menenangkan, teman. Jika kita sadar dengan sebenar-benarnya sadar, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar kita miliki, maka kita akan bisa merasa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar hilang dari diri kita. Karena memang tidak pernah ada yang benar-benar kita miliki. Apa pun yang kita miliki adalah milik Allah, jika ia berhekendak mengambilnya apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Janganlah kehilangan yang sedikit menghalangi kita untuk bahagia, sebab masih banyak yang kita miliki. Maka nikmatNya yang manakah yang akan kau dustakan? Sementara nafas saja adalah kemurahannya, begitu kata lagu. Kisah kegagalan melihat yang besar dikarekan terlalu terfokus pada yang kecil ini sering terjadi dalam berbagai sisi kehidupan. Dalam interaksi sosial sering terjadi permasalahan hanya gara-gara hal kecil. Seorang teman yang berbuat salah kepada kita bisa membuat kita memusuhinya. Padahal perbutan baik yang telah ia lakukan untuk kita jauh lebih banyak. Tapi kita tidak bisa melihat itu semua lantaran kita terlalu terfokus pada kesalahannya. Mengapa ini terjadi? Semua akibat dari sikap terlalu banyak meletakkan harapan pada manusia. Dalam persahabatan dan persaudaraan, kita selalu berharap semua orang itu sempurna. kita tidak mau mentolelir kesalahannya. Padahal kata orang, berharaplah banyak-banyak pada manusia, maka bersiaplah lebih banyak lagi untuk kecewa. Siapa sih manusia yang tidak pernah salah? Dalam kehidupan rumah tangga seringkali terjadi perceraian hanya karena ada sedikit kesalahan yang dilakukan oleh pasangan. Padahal sebanyak-banyak kesalahannya, pasti lebih banyak kebaikannya. Kita tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan yang banyak itu lantaran kita sibuk memikirkan kejelekanya. Kita sibuk mengorek-torek tasnya sehingga kita terlupa akan sepedanya. Contoh lain, banyak orang yang merasa tidak puas dengan penampilannya hanya karena ada hal kecil yang mengganjal. Seorang remaja bisa merasa sangat tidak percaya diri lantaran di wajahnya tumbuh beberapa biji jerawat. Padahal bagian yang tidak bejerawat masih jauh lebih luas. Sementara ada orang lain yang mukanya penuh jerawat tapi ia tetap enjoy dan percaya diri. Karena memang ia tidak menggantungkan rasa percya dirinya pada butir-butir jerawat di wajahnya. Banyak orang melupakan yang esensi hanya karena hal-hal kecil. Berharap yang terbaik dalam skala tertentu bukanlah hal yang buruk, tapi terlalu perfeksonis dalam segala hal justru akan menyengsarakan. Jangan sampai seperti seorang gadis yang batal mengenakan jilbab hanya lantaran tidak ada bross penghias yang matching dengan motifnya. Teman, jika anda merasa banyak yang kurang dengan diri anda. Jika anda merasa banyak hal buruk yang terjadi pada anda. Cepat, ambil pena dan kertas. Buatlah dua kolom tabel perbandingan. Tulislah kekuarangan dan keburukan anda di kolom sebelah kiri, lalu catalah kelebihan dan kebaikan yang terjadi pada anda di kolom sebelah kanan. Jika anda jujur, bagaimana pun juga anda akan mendapatkan kolom kedua lebih banyak terisi. Karena memang sekali lagi, perasaan-perasaan tersebut hadir semua karena kesalahan kita yang melupakan sepeda dan terus-menerus mengorek-orek tas, mencari yang kecil dan tersembunyi. Kita terlalu memikirkan kekurangan kita sehingga kita lalai untuk mengoptimalkan kelebihan kita. Padahal siapa sih di dunia ini yang sempurna? Siapa juga orangnya yang benar-benar tak punya kebaikan apa-apa dalam dirinya? Jika ada teman atau saudara kita yang berbuat salah, kembali buatlah tabel dua kolom seperti tadi. Bandingkan kesalahan-kesalahnnya dengan kebaikan-kebaikan dan jasa-jasa yang telah ia lakukan. Jangan cepat men-judge seseorang. Begitulah teman, cara pandang kita terhadap segala sesuatu yang terjadi pada kita sangat mepengaruhi reaksi kita terrhadap sesuatu itu. Jika kita selalu terbiasa mempersulit dan membuat ribet segala sesuatu, pada akhirnya segala suautu itu memang benar-benar akan merepotkan kita. Jika kita terbiasa berpikir negatif maka yang tampak oleh kita hanyalah keburukan-keburukan semata. Tapi jika kita membiasakan diri berpikir positif niscaya kita bisa melihat dari sisi yang berbeda, sehingga sikap kita juga akan berbeda. Kita akan bisa memetik hikmah di balik ujian, bisa mengmabil pelajaran dari semua kejadian. Kita masih tetap bisa bersyukur atas apa-apa yang masi kita miliki. Berpikir positif akan membuat kita tenang. Karenanya kita masih bisa untuk merasa bahagia. Jangan sampai kehilangan uang sepulh ribu membuat anda terlalu gusar, sebab yang sembilan puluh ribu masih sangat cukup untuk sekedar membuat anda bahagia. Bahagialah sekarang juga. Tidak harus menunggu uang anda kembali utuh seratus ribu. Karena itu masih harus menunggu. Bagaimana jika uang anda tidak pernah ebnar-benar cukup seratus ribu lagi? (www.pondokbaca.com) Kirim artikel Cetak artikelKomentarBelum ada komentar. Kirim Komentar |
Kategori
Artikel Terbaru:
Sponsor Kami: Profil Penulis: Putu Wijaya
![]() Beliau mempunyai nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara ... |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
| ˆ Kembali ke atas |
|
||||||||||||||
Copyright © PondokBaca.com 2008 - 2011 | Designed and developed by: Arif Wachyudin |
|||||||||||||||
| - | - | - | |||||||||||||